Pantau Flash
Indonesia Buka Kantor Konsul Kehormatan Pertama di St Christopher dan Navis
Kapten Persija Akui Perubahan Pelatih Pengaruhi Performa Tim
Ada UU Pangan, Pengusaha Tekstil Pertanyakan Kapan Kemunculan UU Sandang
Di Tengah Krisis Boeing, Airbus Malah Tingkatkan Kerja Sama di China
Lebanon Bebaskan Satu Orang yang Dituduh Ingin Ledakkan Bandara Sydney

Lawatan ke Irak, Rouhani Minta Bantuan Tutup Kerugian dari Sanksi AS?

Lawatan ke Irak, Rouhani Minta Bantuan Tutup Kerugian dari Sanksi AS? Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Irak Barham Salih. (Foto: Reuters/Thaier al-Sudani)

Pantau.com - Iran dan Irak menandatangani beberapa transaksi perdagangan awal pada Senin (11 Maret 2019).

Presiden Iran Hassan Rouhani mulai kunjungan pertamanya guna meningkatkan pengaruh Teheran dan memperluas hubungan-hubungan perdagangan untuk membantu menutup kerugian dari sanksi baru Amerika Serikat.

Kesepakatan antar kedua negara, di antaranya membangun kereta api yang menghubungkan antar tetangga yang akan dilakukan secepatnya usai kunjungan Rouhani, dengan menggarisbawahi bahwa Teheran masih memainkan peran yang dominan di Irak meskipun adanya upaya-upaya AS mengisolasi Republik Islam.

Baca juga: Rouhani: AS Tak akan Bisa Intimidasi Iran seperti Pasca 1979

Rouhani dan Perdana Menteri Irak Adel Mahdi menandatangani beberapa momerandum pemahaman, kata kantor Abdul Mahdi dalam pernyataannya.

Melansir Sputnik, Selasa (12/3/2019), keduanya juga menyepakati perjanjian minyak, perdagangan, kesehatan, dan pembangunan kereta api yang menghubungkan kota minyak Irak di Basra dan kota di perbatasan Iran, Shalamcheh.

Rouhani mengatakan, kekhilafahan Muslim Iran bertekad untuk memperkuat hubungan dengan tetangga pemimpin kekhalifahan Arab, menurut televisi Iran.

Baca juga: Masalah dengan AS Masih Panas, Iran Justru Lakukan Hal Ini dari Bawah Laut

"Ikatan itu tak bisa dibandingkan dengan hubungan Irak dengan negara AS, yang membeci wilayah itu. Salah satunya adalah insiden bom yang dijatuhkan AS di Irak, Suriah, dan negara regional lainnya," kata Rouhani dikutip kantor berita Mehr.

Seorang pejabat senior Iran yang menyertai Rouhanui mengatakan kepada Reuters, Irak merupakan saluran lain bagi Iran guna menghindari sanksi-sanksi yang tidak adil oleh Amerika Serikat. Hal itu merupakan kesempatan bagi perekonomian Iran.

Irak bergantung impor migas Iran untuk memberi makan jaringan listrik karena Presiden Donald Trump memperpanjang sanksi kepada Iran pada November lalu.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi
Category
Internasional

Berita Terkait: