Forgot Password Register

Makin Tercekik, AS Jatuhkan Sanksi Baru kepada Venezuela

Makin Tercekik, AS Jatuhkan Sanksi Baru kepada Venezuela Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat John Bolton. (Foto: Reuters/Joshua Roberts)

Pantau.com - Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat John Bolton mengumumkan serangkaian sanksi baru terhadap Kuba dan Venezuela, saat pemerintah Presiden Donald Trump terus berupaya menekan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro dan sejumlah negara yang mendukungnya, Rabu, 17 April 2019.

Bolton, dalam pidato di hadapan asosiasi veteran penyerbuan gagal Teluk Babi 1961 mengatakan, AS menambahkan lima nama terkait dengan badan intelijen dan militer Kuba ke daftar hitam sanksi, termasuk maskapai Aerogaviota milik militer.

Baca juga: Kanada Beri Sanksi Baru Terhadap 43 Pejabat Venezuela Rezim Maduro

Bolton menuturkan, Washington merencanakan batas baru pengiriman uang ke Kuba dan perubahan untuk menghentikan penggunaan transaksi yang memungkinkan Havana menghindari sanksi dan mendapat akses ke mata uang kuat (mata uang negara yang memiliki permintaan stabil dan fluktuasinya kecil dalam pasar uang internasional).

Ia juga mengumumkan sanksi baru terhadap bank sentral Venezuela untuk melarang aksesnya ke dolar AS.

"Dengan adminstrasi ini, kita tidak membuang garis hidup diktator. Kita mengambilnya," kata Bolton.

Baca juga: Pompeo: Rusia dan Kuba Akan Terima Sanksi karena Dukung Maduro

Pengumuman sanksi baru oleh Bolton muncul hanya beberapa jam setelah pemerintahan Trump mengatakan pihaknya mencabut larangan lama terhadap warga AS, yang mengajukan tuntutan hukum terhadap perusahaan asing yang menggunakan properti yang disita pemerintah Komunis Kuba sejak revolusi 1959 oleh Fidel Castro.

Bergesernya kebijakan utama, yang diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, mendatangkan ratusan ribu tuntutan hukum senilai puluhan miliar dolar AS.

Hal itu dimaksudkan untuk terus menekan Havana saat Washington menuntut dihentikannya dukungan Kuba terhadap Maduro.


Share :
Komentar :

Terkait

Read More