Pantau Flash
Jelang Setahun Gempa Sulteng, 216 Narapidana Belum Kembali
Lampu Tenaga Surya akan Terangi Wilayah Terpencil di Kalimantan Barat
Gelandang Persib: Tolong Hentikan Kekerasan Pada Sepakbola
Tundukkan Wakil China, Della/Rizki Juara Vietnam Open 2019
Persija Jakarta Taklukkan PSIS Semarang dengan Skor 2-1

Pantau Story: Cerita Veteran Perang Operasi Seroja, Kehilangan Tangan Demi Merah Putih

Headline
Pantau Story: Cerita Veteran Perang Operasi Seroja, Kehilangan Tangan Demi Merah Putih Ronny Muaya (Foto: Pantau.com/Lilis Varwati)

Pantau.com - Anak pertamanya baru saja lahir ketika Kolonel Ronny Muaya harus rela kehilangan tiga perempat tangan kirinya akibat diamputasi. Tangannya membusuk karena terlambat mendapat pertolongan usai tertembak musuh saat Operasi Seroja tahun 1975-1976.

Apa Itu Operasi Seroja?

Operasi Seroja adalah invasi Indonesia ke Timor Timur untuk merebut Kota Dili dan sekitarnya dari cengkeraman Fretilin, gerakan pertahanan yang berjuang untuk kemerdekaan Timor Timur. Peristiwa itu sempat membuat Ronny marah hingga berteriak-teriak kepada dokter untuk mengambil nyawanya. Tak terbayang bagaimana nasib karir militernya ketika itu, padahal usianya belum genap 30 tahun. 

Kolonel Ronny Muaya Operasi Seroja

Kolonel Ronny Muaya. (Foto: Istimewa)

Sadar tak mampu mengembalikan tangan kirinya yang telah diamputasi, Ronny teringat dengan anak istrinya. "Kalau saya terus larut pada kecacatan siapa yang mengurus anak istri saya? Maka saya harus tidak boleh larut dalam kekurangan. Saya harus move on," kata Ronny saat ditemui Pantau.com di Balai Veteran Kompleks Wisma Seroja, Bekasi Utara, Jawa Barat, Jumat (9/11/2018).

Baca juga: Kisah Simo Hayha, Sniper Pembunuh 705 Target dalam 100 Hari

Ajaran ayahnya yang juga seorang tentara membuat Ronny sadar bahwa menjadi prajurit hanya memiliki dua pilihan dan harus menerima setiap risiko. 

"Prajurit harus siap membunuh atau dibunuh. Jadi terhadap risiko yang paling jelek kita harus siap. Saya tahu bahwa jadi tentara risikonya selamat, cacat, atau gugur. Udah siap itu. Hidup mati. Apalagi untuk negara," kata Ronny dengan intonasi tinggi.

Ronny menjadi anggota Batalion 502 Linud Kostrad berpangkat kapten yang ditugaskan sebagai komandan kompi.

Tanpa segan bahkan penuh bersemangat, Ronny bercerita kepada Pantau.com kenangan ketika dirinya menjadi komandan dalam operasi militer tersebut. 

Diadang Musuh Hingga Koma Sepuluh Hari 

Purnawirawan 70 tahun itu mengaku pernah ditembak musuh dari daratan ketika dirinya berada di dalam helikopter. Peristiwa itu terjadi pada Operasi Seroja tahun 1975-1976. Pertama kalinya Ronny ke Timor Timur. 

"Saya ke Timor Timur dua kali. Waktu yang pertama saya di udara udah ditembakin musuh dari bawah, enggak apa-apa (tidak cedera)," katanya sambil sesekali memindahkan tangan palsunya ke pangkuan kakinya. 

Tahun 1977, Ronny kembali ke Timor Timur karena perang kembali berkecamuk. Sayangnya ketika itu nasib mujur tak sekarib dua tahun sebelumnya. Sambil sesekali menunjuk lengan kirinya, Ronny bercerita, ia diadang musuh ketika akan kembali ke batalion. Padahal saat itu posisi musuh telah berhasil direbut pasukan Indonesia dan Ronny tengah memberikan perintah lanjutan kepada anak buahnya.

Seperti dijebak, Ronny baru sadar dirinya menjadi incaran tembak para musuh.  "Rupanya ketika itu saya sudah diketahui bahwa 'itu komandannya'," ucapnya. Ronny pun koma selama sepuluh hari dan ketika bangun tersadar di rumah sakit, tangan kirinya hanya tersisa seperempat bagian.

kolonel ronny muaya

Kolonel Ronny Muaya ketika ditemui Pantau.com. (Foto: Pantau.com/Lilis Varwati)

Timor Timur Tetap Lepas, Ronny: Sakitnya tuh di Sini

Ronny Muaya makin bersemangat saat dimintai tanggapan soal Timor Timur yang pada akhirnya terlepas dari Indonesia, dua dekade pascaoperasi Seroja. Dengan lantang Ronny menegaskan dirinya kecewa saat tahu wilayah yang pernah ia perjuangkan bersama prajurit lain pada akhirnya tetap lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

kolonel ronny muaya saat muda di operasi seroja

"Sakitnya tuh di sini," ucap Ronny menirukan lirik lagu dangdut sambil menunjuk dadanya. 

"Kecewa. Ada kata lebih seram lagi enggak dari kecewa? Ya, kecewa aja. Ibaratnya kita ditugaskan untuk menjaga Timor Timur ke dalam wilayah integrasi Indonesia, berhasil. Karya kita dong itu. Loh ini karya kita udah jadi tapi kok dikembalikan gitu. Ya kecewa aja," tambahnya. 

Enggan disimpan sendiri, Ronny bersama kawan-kawannya meluapkan kekecewaan itu dengan bertemu pihak pemerintah. Namun apa daya, puncaknya pada 2002 Timor Timur tetap lepas dari genggaman kedaulatan Indonesia. 

Nampak sedikit garis senyum tergambar di wajah Ronny saat menceritakan lepasnya Timor Timur 16 tahun lalu itu. Ia seakan ingin menunjukkan dirinya telah ikhlas wilayah Timor Timur tak lagi menjadi bagian NKRI. 

Share this Post:
Tim Pantau
Penulis
Adryan Novandia
Reporter
Lilis Varwati
Category
Nasional

Berita Terkait: