Forgot Password Register

Ingin Menikah dengan Konsep Mewah Tapi 'Low Budget'? Ini Tipsnya!

Foto pernikahan Briand dan Ike. (Foto: Dokumentasi Briand) Foto pernikahan Briand dan Ike. (Foto: Dokumentasi Briand)

Pantau.com - Pesta pernikahan biasanya identik dengan acara yang mewah dan meriah. Tak ayal, banyak budget yang harus dikeluarkan dari pasangan yang mau membangun sebuah rumah tangga hanya untuk merayakan pesta pernikahannya.

Baru-baru ini, pasangan Brianditya Fergiansyah bersama Ike Putri Hani Pertiwi melangsungkan acara pesta pernikahan di Malang. Acara yang berlangsung pada 23 Juni di Hamur Dieng itu terlihat begitu elegan, hingga menghebohkan para netizen.

Betapa tidak, dalam acara pernikahannya, pasangan yang telah sembilan tahun berpacaran itu menghabiskan dana sebesar Rp30 juta. Angka tersebut terbilang kecil apabila dibandingkan dengan acara pernikahan lainnya, terlebih menggunakan wedding organizer (WO).

Ya, Briand sempat berbagi pengalamannya melalui media sosial Twitter. Pria yang mencintai makanan dan penggemar sepakbola itu menceritakan kalau dirinya dan sang istri, Ike membuat ide pernikahan dengan tema 'intimate bohemian rustic'. Dimana mereka mengundang teman terdekat dan juga keluarga sekitar 225-250 orang.

Melihat tata letak, dekorasi dan beberapa sudut para tamu undangan dihipnotis dengan pemandangan yang asri. Selain itu, bagi para tamu yang membawa anak bisa menempatkan sang buah hati di sebuah tempat khusus untuk menggambar.



Tak disangka, cuitannya itu di retweets sebanyak 4.165 dan disukai 11.462. Lantas, Pantau.com mencoba mewawancarai kedua pasangan tersebut via pesan Whatsapp, berikut isi percakapannya:

1. Bisa ceritakan ide dan konsep awal pesta pernikahan bertema ‘intimate bohemian rustic’ ?

"Berawal dari kami berdua yang menginginkan pernikahan yang outdoor dan 'ringan', dimana tamu, keluarga dan kami sebagai pengantin tidak perlu merasa tidak nyaman dengan baju yang terlalu berat. Kami juga berharap suasana yang santai mengalir. Selain itu kami menginginkan pernikahan yang intim, agar kami mengenal semua tamu yang datang dan menciptakan interaksi yang menyenangkan. Bahkan antar tamu bisa jadi ajang reuni dadakan. Maka dari itu kami hanya mengundang keluarga, sahabat, tetangga, dan rekan kerja. Kami ingin ini benar-benar acara kami, bukan acara orang tua," jelas Brian.

"Kenapa bohemian rustic? Karena mewujudkan dream wedding istri yang suka dengan sesuatu bertema rustic, dan pelaminan yang unik dan tidak berat di dekorasi. Maka dipilihlah pelaminan dengan tenda gaya bohemian," sambungnya.



2. Apakah saat memutuskan tema yang dibuat dengan pasangan menemui pertentangan dari keluarga?

"Puji syukur keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada kami berdua. Sebab orang tua dari kedua belah pihak juga tidak menginginkan acara yang megah atau menggunakan adat. Jadi ya sudah kami lanjut dengan konsep impian kami ini. Tapi diawal kami jelaskan dan kami print foto-foto inspirasi pernikahan outdoor yang kami inginkan."

3. Adakah rintangan dalam proses pengerjaan seperti waktu, dekorasi dan tempat?

"Banyak banget kendalanya. Terlebih tenaga ya, karena kami mengurus ini hanya berdua. Tapi karena sudah diniatkan dari awal maunya kita seperti ini jadi dijalani dan dinikmati saja. Bahkan H-3 hingga H-1 kami masih disibukkan dengan rangkaian acara keluarga yang juga sangat menyita tenaga. Bener-bener capek. Untuk waktu juga cukup kejar=kejaran, karena kami hanya menyiapkan ini sekitar 1,5 bulan itu pun terpotong libur hari raya."

"Yang paling bikin worry adalah H-4 baju untuk bride masih berupa lembaran kain, dan H-1 baju untuk groom baru selesai dijahit. Tapi untungnya semua bisa beres sebelum acara dan Alhamdulillah semua fit di badan. Untuk dekorasi, venue, dan katering syukurlah kami memilih vendor yang tepat. Mereka tidak membuat kami makin stres karena kendala yang saya sebutkan diatas. Mereka membantu kami sekali," ceritanya.



4. Usai acara, rencana yang dijalankan itu sesuai ekspektasi atau bahkan lebih?

"Ketika acara kami merasa semua sesuai ekspektasi kami. Tamu-tamu banyak yang berpakaian santai, bernyanyi bersama, berjoget hingga selesai acara, dan menikmati jokes yang dibawakan MC. Anak-anak bermain di area kids corner dan sibuk mewarnai, sementara orangtuanya makan dan berbincang dengan tamu lain. Anak-anak tidak rewel, justru menikmati. Ini yang kami inginkan."

5. Setelah viral dan menjadi perbincangan di sosial media, ada pesan khusus yang belum disampaikan?

"Mahal atau murah sebenernya relatif ya, tergantung pribadi masing-masing. Pesan kami, samakan persepsi dengan orang tua. Itu penting. Namun yang jelas sesuaikan dengan budget yang dimiliki. Kalau memang ingin mengeluarkan budget tidak terlalu banyak seperti kami, jangan lelah buat mencari dan bandingin vendor-vendor yang kalian tahu. Kalau ada yang bisa di-handle sendiri, go with it. Minta tolong saudara dan teman-teman. Oiya, jangan terlalu capek. Usaha keras kalian mewujudkan dream wedding yang low budget namun manis dan mengesankan, akan menyenangkan kalian ketika melihat hasilnya, serta bisa jadi cerita seru buat anak cucu nanti," pungkasnya.


Share :
Komentar :

Terkait

Read More