Forgot Password Register

Revolusi Industri 4.0, JK: Jika Industri Gunakan Robot. Siapa Konsumennya?

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (kedua dari kiri)(Foto:Pantau.com/Ratih Prastika) Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (kedua dari kiri)(Foto:Pantau.com/Ratih Prastika)

Pantau.com - Dunia memasuki revolusi industri keempat yang ditandai dengan kemunculan lima teknologi utama yang menopang implementasi Industri 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human-Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

Kehadiran teknologi robotik ini atau digitalisasi di segala lini sempat dikhawatirkan akan membunuh pekerjaan-pekerjaan yang ada. Terkait hal tersebut Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengatakan, Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda soal revolusi industri 4.0.

Baca juga: INASGOC Ajukan Ekstra Anggaran Rp291 Miliar, Untuk Apa?

"Roadmap Indonesia tentu punya latar belakang, pemakaian sistem informasi (untuk) mempercepat industri. Semua jaman mempunyai ciri-ciri sendiri yang disebut perubahan dan revolusi berhubungan kemajuan semua bangsa ingin bangsanya maju Indonesia juga punya pola perencanaan memajukan bangsa," ujarnya saat pemaparan di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (7/6/2018)

Dalam acara Program Penguatan Kapasitas Pemimpin Indonesia dengan tema "System Leadership for Innovation 4.0" ini Kalla juga mengatakan, penerapan revolusi industri 4.0 di Indonesia berbeda dengan negara lain yang memiliki keterbatasan tenaga kerja. 

"Kita beda dengan Jepang old country, (kita) tenaga kerjanya banyak dan teknologilah yang membantu industri, maka kita diskusikan perubahan bagaimana bersatu menyikapi perubahan-perubahan," ungkapnya.

Baca juga: Sri Mulyani Klaim Sudah Cairkan Rp15,47 Triliun Dana THR

Ia menambahkan, banyak negara-negara melakukan perubahan. Tiongkok misalnya, menggunakan teknologi tinggi. Begitu juga Singapura juga mengembangkan riset sistem nasional bisa mereka manfaatkan.

Namun, untuk di Indonesia menurutnya harus ada konsep perpaduan antara digitalisasi dan tenaga kerja sehingga tenaga kerja tetap bisa diberdayakan dan mendapatakan penghasilan.

"Apabila semua industri digunakan robot. Siapa konsumennya? Siapa pembeli? Apabila semua automation semua robot siapa yang dapat keuntungan apakah robot?" ungkapnya.

"Semua industri perlu perubahan yaitu sikap pengetahuan cara bertindak dan mengimplementasikan. Apabila tidak, tenaga kerja siapa yang berpenghasilan. Semua harus digabung, ciri kita beda dengan Singapura, Tiongkok, tapi tetap berada dalam kemajuan dan tren dunia," pungkasnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More