Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Badan Gizi Nasional Ingatkan Mitra Agar Program Makan Bergizi Gratis Tidak Dijadikan Ladang Bisnis

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Badan Gizi Nasional Ingatkan Mitra Agar Program Makan Bergizi Gratis Tidak Dijadikan Ladang Bisnis
Foto: (Sumber: Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang dalam acara lokakarya penguatan kehumasan bersama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jakarta pada Sabtu (7/3/2026). ANTARA/HO-BGN.)

Pantau - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional bidang komunikasi dan investigasi Nanik Sudaryati Deyang mengingatkan para mitra program agar tidak menjadikan Program Makan Bergizi Gratis sebagai ladang bisnis.

Ia menegaskan sejak awal program tersebut dirancang sebagai program sosial untuk meningkatkan gizi masyarakat, bukan kegiatan bisnis.

Program Makan Bergizi Gratis disebut lahir dari kepedulian Presiden Prabowo Subianto terhadap kondisi masyarakat miskin, terutama anak-anak.

Nanik menjelaskan gagasan program tersebut muncul dari pengalaman Prabowo saat mengunjungi kawasan Cilincing, Jakarta Utara pada 2012.

Saat itu Prabowo melihat warga mengais sisa makanan dari buruh pabrik untuk dimakan bersama keluarga.

"Pak Prabowo waktu itu sangat marah melihat kondisi tersebut. Dari situlah muncul tekad beliau, jika suatu saat mendapat amanah menjadi presiden, ingin memastikan masyarakat terutama anak-anak mendapatkan makanan yang layak", ungkapnya.

Program Dirancang sebagai Investasi Sosial

Nanik menegaskan Program Makan Bergizi Gratis dirancang sebagai investasi sosial dan kemanusiaan bagi masyarakat.

Pada tahap awal pelaksanaan, pemerintah membuka peluang kemitraan bagi lembaga yang ingin terlibat dalam penyediaan dapur program tersebut.

Prioritas kemitraan diberikan kepada yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan.

Tujuan kebijakan tersebut adalah agar lembaga sosial yang telah membantu masyarakat juga memperoleh dukungan untuk meningkatkan fasilitas pelayanan mereka.

Evaluasi Mitra dan Pengawasan Program

Dalam praktiknya, Nanik mengakui terdapat pihak-pihak yang mendirikan yayasan hanya untuk mengelola dapur program dengan orientasi bisnis.

Beberapa pihak bahkan mengelola banyak dapur sekaligus untuk memperoleh keuntungan.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial serta menyimpang dari tujuan awal program.

Ia juga menilai dalam sejumlah kasus pengelolaan dapur lebih berorientasi keuntungan sehingga fasilitas dan standar operasional kurang diperhatikan.

"Secara kepemilikan, dapur ini membuat orang iri karena munculnya bukan oleh yayasan sosial, pendidikan, atau keagamaan, melainkan pengusaha-pengusaha berkedok yayasan karena orientasinya bisnis tadi", ujarnya.

Badan Gizi Nasional menyatakan akan terus melakukan evaluasi terhadap seluruh mitra penyelenggara program.

Kontrak kerja sama mitra hanya berlaku selama satu tahun dan dapat diperpanjang setelah melalui proses evaluasi.

Nanik menegaskan kerja sama dapat dihentikan apabila mitra tidak menjalankan program sesuai tujuan yang telah ditetapkan.

"Kita akan luruskan lagi bahwa MBG bukan bisnis, melainkan program kemanusiaan, investasi sosial", ungkapnya.

Ia juga mengingatkan kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi agar menjalankan program sesuai pedoman teknis serta standar operasional yang telah ditetapkan.

Penulis :
Gerry Eka
Editor :
Tria Dianti