Forgot Password Register

Sekelumit Cerita Para Petani yang Girang Nikmati BBM 1 Harga

Sekelumit Cerita Para Petani yang Girang Nikmati BBM 1 Harga SPBU (Foto: Pantau.com/Fery Heryadi)

Pantau.com - Selama ini, banyak warga di luar pulau Jawa yang kerap menyeluhkan harga BBM mahal karena tak setara. Tapi itu dulu, saat BBM satu harga belum menyentuh mereka.

Tak hanya mengurangi beban pengeluaran, rupanya berkah BBM satu harga ini juga berpengaruh pada penghasilan pertanian warga. Salah satunya adalah Octovianus Alexander Rajariwu (52 tahun).

Petani asal Desa Raekore, Sabu Barat, Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur ini mengaku mesin traktornya bisa beroperasi maksimal.

"Sekarang mesin ini bisa difungsikan maksimal, karena saya tidak kesulitan cari bahan bakar," katanya.

Baca juga: Arcandra Ungkap Risiko Pengelolaan Migas Kekinian, Ada Apa?

Membajak sawah merupakan tahapan yang sangat penting untuk menyuburkan tanah. Lapisan tanah setelah masa panen, dibalik agar tanah menjadi gembur dan bisa ditanam kembali. Menyiapkan tanah sebelum masa tanam, akan berdampak pada hasil panen ke depannya.

Dulu, sebelum ada program BBM satu harga, para petani bawang di Desa Raekore, harus berpikir dua kali untuk membajak sawah. Selain harga BBM mahal, untuk mendapatkannya penuh perjuangan dengan jarak tempuh hingga 6 kilometer.

"Harga bensin kisaran Rp100.000 - Rp200.000 per-liter. Kami dijatah 1,5 liter seukuran botol air mineral. Sudah mahal, susah juga didapatnya kita tempuh dulu perjalanan bisa 5–6 km," ceritanya.

Tentunya bahan bakar tersebut tidak cukup untuk menggerakkan mesin traktor secara maksimal. Karena agar maksimal penggunaannya, traktor harus diisi BBM penuh sekitar 3,5 liter.

Baca juga: Pertamina Klaim Pembangunan Lembaga Penyalur BBM 3T Selesai 2018

Karena terpaksa, Alex dan petani lainnya patungan membeli BBM dengan harga mahal ke pengecer, agar sedikit bisa membantu menggerakkan traktor. Upaya mendapatkan BBM pun tak semulus yang dibayangkan. Ketersediannya terbatas. Rata-rata hanya 8 drum. Bahkan pada saat musim tanam dengan kebutuhan BBM yang sangat besar, tidak bisa mencukupi permintaan petani. 

"Tapi itu dulu. Karena sejak akhir Agustus lalu, BBM satu harga sudah masuk di wilayah kami. Harga Bensin sudah sama dengan di Jawa, Rp 6.450 per liter. Jadi saya bisa gunakan traktor semaksimal mungkin. Pasokannya BBMnya juga lancar," jelasnya. Senyum mengembang saat Alex menceritakan perubahan hasil panen. 

Share :
Komentar :

Terkait

Read More