Pantau Flash
Indonesia Buka Kantor Konsul Kehormatan Pertama di St Christopher dan Navis
Kapten Persija Akui Perubahan Pelatih Pengaruhi Performa Tim
Ada UU Pangan, Pengusaha Tekstil Pertanyakan Kapan Kemunculan UU Sandang
Di Tengah Krisis Boeing, Airbus Malah Tingkatkan Kerja Sama di China
Lebanon Bebaskan Satu Orang yang Dituduh Ingin Ledakkan Bandara Sydney

Sering Dianggap Bangkrut, Segini Ternyata Uang BUMN Indonesia

Headline
Sering Dianggap Bangkrut, Segini Ternyata Uang BUMN Indonesia Kantor Kementerian BUMN (Foto: Pantau.com/Yusuf Fadila)

Pantau.com - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi salah satu senjata bagi pemerintah dalam pengembangan usaha negara. Namun, tahun politik ternyata membawa nuansa yang berbeda terhadap penilaian kinerja BUMN. Beberapa kali BUMN disinggung bangkrut ataupun dianggap utang berlebih. 

Managing Director Lembaga Management (LM) FEB Universitas Indonesia, Toto Pranoto justru menilai performa 20 BUMN Indonesia yang sudah listed atau menjadi perusahaan terbuka (Tbk.) mampu menopang pertumbuhan revenue dan total aset yang cukup bersaing dibandingkan dengan BUMN di negeri tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. 

"Tren pemberitaan dengan tone negatif memang tidak mengganggu semangat kerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Tetapi tanpa kita sadari, tone negatif pemberitaan BUMN telah mengaburkan capaian prestasi kinerja BUMN dalam satu tahun terakhir ini," ujarnya dalam diskusi Prospek BUMN di Tahun Politik, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (13/3/2019).

Baca juga: Ritel di Mall Tutup, Mendag: Orang Tak Mau Lagi Buka-buka Rak

Ia mencatat, pertumbuhan aset BUMN sepanjang tahun 2018 sebesar Rp8.092 triliun atau tumbuh 12,23 persen dibanding 2017 yang sebesar Rp7.210 triliun. Jika dibandingkan dengan periode 2015 sebesar Rp5.760 triliun, maka teriadi lonjakan aset hingga Rp40,48 persen.

Potret lain mengenai kinerja operasional BUMN secara agregat cukup memuaskan dilihat dari penumbuhan ekuitas 2018 sebesar Rp2.479 triliun sebesar 4,16 persen dibanding 2017 sebesar Rp2.380 triliun, atau tumbuh 24,51 persen dibanding 2015 sebesar Rp1.991 triliun.

"Data kinerja perusahaan pelat merah yang dirilis Kementerian BUMN beberapa waktu lalu tersebut, menujukkan daya saing tersendiri jika dibandingkan terhadap BUMN di Malaysia dan Singapura," ungkapnya.

Baca juga: Indonesia Butuh 17 Juta Pekerja Ekonomi Digital, Ada yang Tertarik?

Selain itu, pertumbuhan laba 2018 tercatat Rp188 triliun atau tumbuh 1,08 persen dibanding 2017 sebesar Rp186 triliun. Ditambah lagi, kontribusl BUMN terhadap negara pada 2018 mencapai Rp422 triliun dalam bentuk pajak, dividen, dan PNBP lain. Jumlah tersebut tumbuh 19,21 persen dibanding 2017 sebesar Rp340 triliun atau dan tumbuh 39,27 persen dibanding 2015 sebesar Rp303 triliun.

Menurutnya, capaian BUMN sepanjang 2018 ini bahkan untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak reformasi 1998, BUMN Indonesia unggul dibandingkan BUMN Malaysia. 

“Kinerja Khazanah atau BUMN Malaysia di 2018 justru mengalami penurunan, dimana pada tahun tersebut untuk pertama kalinya mencatatkan kerugian RM6,3 miliar atau sekitar USD1,5 miliar atau dalam rupiah berarti rugi Rp21 triliun,” ungkapnya. 


Share this Post:
Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni
Reporter
Ratih Prastika
Category
Ekonomi

Berita Terkait: