Forgot Password Register

Headlines

Sexy Killers Ungkap Sisi Gelap Lingkaran Jokowi dan Prabowo

Sexy Killers Ungkap Sisi Gelap Lingkaran Jokowi dan Prabowo Tambang batu bara telah menyebabkan dampak lingkungan dan kesehatan di kalangan warga yang tinggal di dekat lokasinya. (Foto: Unearthed, Creative Commons via ABC News)

Pantau.com - Sejumlah politisi top di Indonesia, termasuk para calon pemimpin seperti Joko Widodo, Prabowo Subianto, dan Sandiaga Uno memiliki kepentingan politik dan ekonomi yang besar dalam bisnis batu bara di Indonesia.

Jaringan pebisnis dan politisi dalam sektor pertambangan tersebut menjadi tema film dokumenter terbaru Sexy Killers yang diproduksi Watchdoc dan diputar di University of Melbourne, Kamis malam 11 April 2019.

Baca juga: Prabowo-Sandi Luncurkan Website Resmi, Ini Alamatnya

Film tersebut mengisahkan kesulitan sejumlah warga di Kalimantan Timur untuk mendapatkan air bersih setelah ekspansi pertambangan batu bara. Seperti Nyoman, warga yang mengikuti program transmigrasi ke Kutai Kertanegara yang mengaku kehadiran perusahaan batu bara sudah memblokir aliran air ke pertanian.

Belum lagi dampak dari lubang bekas pertambangan yang berada di sekitar kawasan pemukiman warga dan sepanjang 2014-2018 telah merengut 115 nyawa.


Melansir ABC News, Jumat (12/4/2019), fakta lainnya yang diangkat dalam film dokumenter tersebut adalah proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di kabupaten Batang Jawa Tengah.

Warga Batang yang sebagian besarnya adalah nelayan dan petani telah berjuang selama lima tahun untuk menentang proyek pembangunan PLTU Batang, yang disebut oleh aktivis sebagai "proyek kotor".

Penentangan warga mendapat dukungan dari lembaga aktivis Greenpeace, Walhi dan Jatama yang juga pernah menduduki alat berat yang beroperasi di perairan Roban Timur.


Ditemukan fakta PLTU Batang dibangun di kawasan konservasi perairan yang kaya akan ikan dan terumbu karang. (Foto: Greenpeace)

Disebutkan dalam laporan Greenpeace, PLTU Batang menjadi pembangkit listrik tenaga uap terbesar di Asia Tenggara yang dibangun di tanah seluas 226 hektar dan "memangsa" lahan pertanian dan perkebunan produktif.

Baca juga: Protes Terhadap Polisi, #INAelectionObserverSOS Trending Topic Dunia

"Yang mengejutkan adalah PLTU ini akan dibangun di Kawasan Konservasi Laut Daerah Ujungnegoro - Roban, yang merupakan kawasan kaya ikan dan terumbu karang," tulisan laporan Greenpeace pada bulan Maret 2017.

Di film tersebut seorang nelayan geram sesaat setelah Presiden Joko Widodo meresmikan proyek pembangunan PLTU Batang. "Bila PLTU berdiri, anakku mau dibawa ke mana? Tak ada tempat lagi di Indonesia," ujar nelayan sambil menahan amarah dan air matanya.

"Gara-gara orang pintar, gunung dijual, laut ditanami besi."

Keterkaitan kubu 01 dan 02


Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menilai Pemilu 2019 penuh dengan kepentingan indusri, khususnya di sektor tambang. (Foto: Situs resmi Jatam)

Bagian menarik dalam film tersebut adalah bagaimana kedua kandidat calon presiden, yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto, beserta orang-orang di sekelilingnya memiliki keterkaitan dalam mengusasi tambang batu bara.

Dalam film tersebut disebutkan perusahaan mebel PT Rakabu Sejahtera tidak hanya dimiliki Jokowi.

Saham perusahaan yang juga bergerak di banyak bidang, termasuk konstruksi, pengembangan wilayah transmigrasi pembebasan lahan, juga dimiliki oleh PT Toba Sejahtera milik Luhut Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman yang juga induk perusahaan Toba Bara, yang memiliki tambang batu bara.

PT Toba Bara juga membeli perusahaan Sandiaga Uno yang mengoperasikan PLTU Paiton di Jawa Timur.

Beberapa nama lain dari tim sukses kubu 01 Joko Widodo juga dilaporkan memiliki jabatan strategis di sejumlah perusahaan pertambangan, termasuk Osman Sapta Oedang, Dewan penasihan Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'ruf yang memiliki kaitan dengan perusahaan PT Total Orbit, serta Haji Isam yang pernah menjadi Wakil Bendahara TKN Jokowi - Maruf, yang juga dikenal sebagai salah satu pengusaha batu bara yang sukses dan disegani di Indonesia.


Presiden Joko Widodo meresmikan peletakan batu pertama PLTU di Batang, Jawa Tengah pada Agustus 2015 (Foto: Sekretariat Kabinet Republik Indonesia)

Di kubu 02, Prabowo Subianto tercatat sebagai pemilik Nusantara Energy Resources yang menaungi tujuh anak perusahaan.

Sandiaga Uno tercatat sebagai pemilik PT Saratagoa Investama Sedaya yang memiliki perusahaan tambang yang pernah merengut korban jiwa dan PT Adaro Energy yang memiliki saham di PLTU Batang.

Baca juga: Twitter Diramaikan Perang Tagar #JokowiBohongLagi dan #02GagapUnicorn

Badan Pemenangan Nasional (BPN) juga memiliki orang-orang yang memiliki perusahaan yang bergerak di perusahaan pertambangan.

Presiden Joko Widodo pernah meluncurkan proyek 35 ribu Mega Watt listrik untuk Indonesia, yang menurut film tersebut berarti setidaknya akan menguntungkan 10 perusahaan pertambangan batu bara yang dimiliki jaringan politisi dan pengusaha tersebut.

Awal April 2019, sebuah lembaga non-profit dunia, Global Witness mengeluarkan laporan investigasi yang menunjukkan Sandiaga Uno telah memperoleh keuntungan dari sejumlah pembayaran mencurigakan dari sebuah perusahaan batu bara Indonesia ke perusahaan lain, dengan nilai mencapai US$ 43 juta atau lebih dari Rp 600 miliar.

Kesepakatan di belakang panggung


Pengamat menilai ada beberapa kesepakatan diantara dua kubu meski pendukung keduanya seringkali terlibat dalam perdebatan. (Foto: Reuters, Beawiharta)

Usai pemutaran film Sexy Killers yang diselenggarakan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia di University Melbourne diadakan diskusi.

Sebagai pembicara adalah kandidat doktor di bidang hukum Lilis Mulyani dan Dr Richard Chauvel dari Asia Institute di University Melbourne dengan dimoderatori oleh Max Walden yang juga sedang mengambil S3 di bidang hukum.

Baca juga: Infografis Catatan Sexy Killer Catut Politikus Pembantu Jokowi-Prabowo

Menurut Dr Richard yang menarik dari dokumenter ini adalah aspek ekonomi politik yang juga ditemukan dan terjadi di kalangan politisi Australia.

"Australia dan Indonesia keduanya memiliki struktur ekonomi yang sangat tergantung batu bara dan juga keduanya termasuk pengekspor batu bara terbesar di dunia."

"Industri batu bara ini memiliki jaringan antara Jokowi dan Prabowo dan saya menduga ini melibatkan jaringan dengan semua partai politik, sama seperti di Australia," ujarnya merujuk pada perdebatan soal perubahan cuaca dan pertambangan di kawasan Adani, Queensland.

Sementara menurut Lilis jika dilihat dari debat calon presiden yang pernah membahas soal lubang pertambangan, sepertinya tidak ada terlihat komitmen politisi.

"Kalau dari visi misi beberapa partai, memang komitmen soal pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam sangat kurang, tidak dibicarakan mendalam," jelasnya.

Ia juga menambahkan bisa jadi mereka berseberangan untuk mendapat kursi kepemimpinan, "tetapi seperti dari fakta yang ada ada kesepakatan di belakang panggung."

Profesor Vedi Hadiz yang juga datang ke acara pemutaran film dan diskusi tersebut mengatakan film ini menjadi indikator bahwa pilihan kita di pemilu mendatang belum tentu membuat perubahan. "Ini dilihat dari sisi bahwa yang menerima keuntungan dari pembuatan kebijakan tentunya adalah perusahaan-perusahaan."

"Pertanyaannya bagi kita apakah kemenangan dari salah satu koalisi politik ini akan berdampak dan mengubah rakyat?"

"Apakah yang satu lebih baik dari yang lainnya?" tambahnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More