Forgot Password Register

Siapa Fraser Anning, Senator 'Kontroversial' yang Dipukul Telur?

Siapa Fraser Anning, Senator 'Kontroversial' yang Dipukul Telur? Fraser Anning, senator independen Australia terpilih ke Senat dengan hanya memperoleh 19 suara. Dia masuk ke parlemen menggantikan senator yang didiskualifikasi. (Foto: ABC News/Dominique Schwartz)

Pantau.com - Ketika terjadi penembakan jamaah dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, Senator Australia Fraser Anning merilis pernyataan kontroversial. Dengan kop surat resmi parlemen, dia mengaitkan pendatang Muslim dengan terorisme.

Para politisi, baik dari pemerintah maupun oposisi, langsung mengecam keras sikap Anning ini, menyebutnya sama sekali tidak mewakili sikap resmi pemerintah Australia.

Melansir ABC News, Senin (18/3/2019), selang sehari setelah penembakan yang hingga kini menewaskan 50 orang dan membuat 12 dirawat di rumah sakit, Anning datang ke suatu acara politik di Melbourne.

Di situ, seorang remaja usia 17 tahun mengepruk telur ke kepala si senator, membuatnya kini dikenal di seluruh dunia sebagai Egg Boy. Seusai dikepruk telur itu, Senator Anning kemudian menghadiri pameran senjata api di Kota Ipswich pada hari Minggu.

Baca juga: Video Senator Australia Fraser Anning Dilempar Telur? Ini Alasannya

Dia menegaskan, tak ada yang kurang pantas jika dirinya menghadiri pameran senjata tak lama setelah terjadi penembakan massal.

Dalam jumpa pers hari Senin (18/3/2019) Senator Anning bersikukuh dengan pernyataannya. "Saya kira tak bisa disebut ujaran kebencian jika saya hanya menyampaikan fakta," ujarnya.

Dia juga sama sekali tidak menyesal memukul remaja yang telah mempermalukannya di depan umum.

Anggota pengganti

Pria kelahiran 1949 ini menjadi senator sejak 10 November 2017, mewakili daerah pemilihan Queensland. Namun dia sebenarnya tidak terpilih dalam Pemilu Australia 2016 silam.

Saat itu, dia hanya memperoleh 19 suara. Dan meski parpolnya saat itu, partai One Nation, berhak mendapatkan kursi, pilihannya jatuh ke caleg Malcolm Roberts.

Tapi pada November 2017, Anning dilantik jadi senator menggantikan Roberts yang didiskualifikasi karena terbukti memiliki kewarganegaraan ganda.

Sebelum dilantik, Anning menghadapi ancaman bangkrut karena dia dan istrinya berutang lebih dari 212.000 dolar Australia ke Bank Bendigo dan Bank Adelaide.

Profil pencalegannya menyebutkan, dia tumbuh di peternakan di Queensland utara. Dia dan istrinya disebutkan memiliki sejumlah hotel.


Senator Anning aktif dalam kegiatan-kegiatan kelompok kulit putih garis keras di Australia. (Foto: AAP/Kenji Wardenclyffe via ABC News)

Dalam pidato pelantikannya, Anning langsung melontarkan pernyataan provokatif. Dia mendesak dipulihkannnya sistem imigrasi "Kristiani Eropa" dan melarang Muslim ke Australia.

Dia juga memuji kebijakan "White Australia" yang pernah berlaku di negara itu, yang mengkhususkan Australia bagi pendatang kulit putih saja.

Anning bahkan mengecam keberagaman budaya sebagai ancama terhadap harmoni sosial di negara itu. "Keberagaman budaya etnis telah dibiarkan berkembang ke arah yang membahayakan di banyak tempat (di Australia)," ujarnya.

Dia menuding masyarakat Muslim Australia sebagai pihak yang paling sulit berasimilasi dan berintegrasi dengan masyarakat lainnya. "Kebanyakan Muslim di Australia yang berusia kerja tidaklah bekerja melainkan tergantung pada tunjangan," kata Anning lagi.

"Meski tidak semua Muslim itu teroris, tapi jelas teroris dewasa ini semuanya Muslim. Jadi ngapain kita mendatangkan mereka ke sini?" ujarnya dalam pidato pelantikannya sebagai senator.

Baca juga: Polisi Geledah Rumah Keluarga Brenton Tarrant di Australia

Anning menggunakan istilah "solusi final" untuk masalah imigrasi. Yaitu melalui referendum. Istilah "solusi final" ini mengingatkan orang pada kebijakan Nazi Jerman dalam mengeliminasi orang Yahudi dari negara itu dalam PD II.

Awal tahun ini, Anning dengan menggunakan fasilitas sebagai pejabat publik, hadir dalam aksi demo kelompok anti Islam di Melbourne. Aksi itu digelar kelompok ekstremis United Patriots Front dan banyak menggunakan simbol-simbol NAZI.

Kini beredar petisi online untuk memecat Anning dari Senat Australia. Menurut Prof Anne Twomey, pakar konstitusi dari University of Sydney, tidak ada dasar untuk memecat seorang anggota parlemen gara-gara pernyataan ofensif yang dilontarkannya.

Pasal 44 Konstitusi Australia mengatur hal-hal yang menyebabkan anggota parlemen dipecat, termasuk kewarganegaraan ganda, dinyatakan bangkrut, menduduki jabatan pemerintahan, atau terpidana dengan hukuman satu tahun atau lebih.

Tapi pernah ada presedennya dalam sejarah parlemen Australia, yaitu di tahun 1920 ketika Hugh Mahon dari oposisi saat itu menyampaikan pidato mengkritik Inggris dan Irlandia, serta mendukung Australia jadi republik.

Baca juga: Sosok Lilik Abdul Hamid, WNI Korban Penembakan Brutal di Christchurch

Menurut Prof Twomey, kewenangan parlemen memecat anggotanya, diatur lebih lanjut dalam Pasal 49 konstitusi. Parlemen, katanya, terlebih dahulu harus menyatakan akan menegakkan kewenangan tersebut.

Namun kini, kata Prof Twomey, kewenangan itu dicabut dari parlemen. Artinya, seorang anggota bisa diberhentikan jika terbukti di pengadilan melanggar alasan-alasan di atas.

Dia menambahkan bahwa parlemen memiliki kewenangan untuk mengubah aturan ini, dan mengembalikan kewenangannya untuk memecat anggota, dengan pertimbangan tertentu.

Artinya, jika memang dikehendaki oleh mayoritas anggota, bisa saja Senator Anning akan dipecat dari Senat Australia. Meskipun hal itu tampaknya sulit, kedua kekuatan politik utama di parlemen telah mengecam sikap Senator Anning.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More