Pantau Flash
Ahsan/Hendra Raih Gelar Juara Dunia 2019
Hasil MotoGP Inggris 2019: Alex Rins Terdepan, Marquez Kedua
Soal Pemindahan Ibu Kota, Kemendagri Sebut Belum Tentukan Letak Pastinya
Putin Perintahkan Kemhan Rusia Balas Uji Coba Peluru Kendali AS
Catat! Ini Janji Menko Luhut Soal Solusi Masalah Sawit Indonesia

Tepok Jidat! Takut Bos, Karyawan Sewa Jasa Pengunduran Diri Rp6,4 Juta

Headline
Tepok Jidat! Takut Bos, Karyawan Sewa Jasa Pengunduran Diri Rp6,4 Juta Ilustrasi (Pixabay)

Pantau.com - Bagi sejumlah orang, mengundurkan diri mungkin jadi hal yang rumit. Karena itu, sejumlah karyawan memutuskan untuk menyewa jasa pengunduran diri hingga menghilang dari kantor tanpa pamit secara resmi kepada atasan.

Dikutip BBC, Yuichiro Okazaki dan Toshiyuki Niino adalah orang yang sangat mahir dalam mengundurkan diri dari pekerjaan. Dalam waktu 18 bulan terakhir, mereka telah mengundurkan diri setidaknya dari 1.500 pekerjaan.

Namun, pasangan ini tidak mengundurkan diri dari posisi mereka masing-masing. Mereka adalah pendiri perusahaan start-up yang menawarkan jasa bantuan pada orang-orang yang berniat mundur dari pekerjaan.

"Sebagian besar dari mereka takut pada bos," kata Okazaki.

Baca juga: Ada Usulan 'Diskon' Tarif Tol Trans Jawa untuk Truk, Pengusaha Mesem Nih

"Mereka tahu bahwa bos mereka akan berkata 'Tidak, kamu tidak boleh keluar'. Saya pikir ini terjadi karena budaya Jepang yang menganggap jika kamu berhenti dari sebuah pekerjaan, itu artinya tidak baik. Ketika mereka mau mengundurkan diri, mereka merasa menjadi orang yang jahat," ungkapnya.

Untuk menjawab hal ini start-up Senshi S menyediakan jasa pengunduran diri yang dinamai Exit. Dengan membayar sebesar 50.000 yen (Rp6,4 juta), Exit akan menelepon bos dari karyawan itu dan mengajukan pengunduran diri atas nama karyawan tersebut.

Kadang-kadang perusahaan itu perlu menelepon berkali-kali pihak pemberi kerja untuk menyampaikan pesan pengunduran diri. Sementara itu, banyak pula perusahaan yang tidak mau berurusan dengan Exit dan meminta para karyawan itu untuk mengundurkan diri sendiri.

Baca juga: Bappenas Angkat Bicara Soal Kritikan Jalan Tol yang Berlanjut

Namun, ketika pengunduran diri itu berhasil, para klien bisa sangat senang.

"Ada seorang klien yang memberi tahu kami, 'kamu adalah Mesias'," ujar Okazaki.

Klien tersebut sudah berencana untuk mengundurkan diri selama 10 tahun belakangan dan dia merasa "sangat tersiksa oleh pekerjaan tersebut".

Berhenti dari pekerjaan adalah hal yang sangat sulit di Jepang dan karyawan yang mengundurkan diri sering kena stigma negatif. Oleh karena itu bermunculan perusahaan yang menawarkan jasa untuk membantu orang mengundurkan diri. Dia mengestimasi bahwa setidaknya 30 perusahaan di Jepang menyediakan jasa sejenis.

Dahulu, karyawan umumnya setia pada satu perusahaan sampai ia pensiun. Namun, beberapa tahun belakangan ini, orang-orang cenderung untuk berpindah-pindah pekerjaan. Jumlah tenaga kerja yang semakin sedikit di sana juga berarti pasar lapangan kerja bagi para pencari kerja.

Baca juga: Hingga 7 Februari 2019, Aliran Modal Asing ke RI Capai Rp49,6 Triliun

"Orang berubah tapi kebudayaan tidak. Perusahaan juga tidak berubah… oleh karena itu orang-orang membutuhkan kami," kata Okazaki.

Tentu saja, meminta orang lain untuk membantu kita mengundurkan diri adalah satu hal yang tidak biasa. Namun, bagi sebagian orang, mengundurkan diri adalah hal yang sulit.

Meskipun berbicara dengan bos saat akan mengundurkan diri masih jadi opsi yang populer, hal itu akan sangat tergantung dengan situasi saat kita akan meninggalkan pekerjaan.

Share this Post:
Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: