Forgot Password Register

Tercatat 700 Orang Tewas karena Topan Idai di Mozambik

Tercatat 700 Orang Tewas karena Topan Idai di Mozambik Kawasan Mozambik disapu topan idai (Foto: Reuters)

Pantau.com - Topan Idai adalah bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya. Korban tewas resmi dari Topan Idai, di Afrika selatan meningkat tajam pada hari Sabtu ketika pihak berwenang melaporkan. 

Jumlah orang yang dinyatakan meninggal di Mozambik naik dari 242 menjadi 417, kata Menteri Tanah dan Lingkungan Celso Correia.

Angka ini menempatkan jumlah korban jiwa secara keseluruhan sekitar 700 orang di seluruh Mozambik, Zimbabwe dan Malawi.

Badai telah menewaskan sedikitnya 259 orang di Zimbabwe, sementara di Malawi 56 orang tewas ketika hujan lebat menghantam topan. Namun PBB mengatakan para pejabat hanya akan dapat menentukan jumlah korban begitu air banjir surut.

"Kita harus menunggu sampai air banjir surut sampai kita mengetahui bentangan penuh dari orang-orang di Mozambik," kata koordinator OCHA Sebastian Rhodes Stampa.

Baca juga: Bak Titanic! Penumpang Kalang Kabut, Kapal Pesiar Nyaris Menabrak Batu

Sekitar 1,7 juta orang dikatakan terkena dampak di seluruh Afrika selatan, tanpa listrik atau air mengalir di daerah-daerah di mana rumah-rumah telah disapu dan jalan-jalan hancur oleh banjir.

Dilansir BBC, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Masyarakat (IFRC) memperingatkan risiko wabah lain, yang sudah meningkat yakni malaria.

Topan Idai mendarat di dekat Beira, sebuah kota berpenduduk 500.000 orang, dengan angin 177km / jam (106 mph) pada 14 Maret. Bantuan secara perlahan mulai diberikan, tetapi kondisinya dikatakan sangat sulit, karena akses beberapa daerah dan langakanya helikopter.

Baca juga: Pakistan Akhirnya Serukan Perdamaian dengan India

Kelompok bantuan mengatakan Mozambik telah menanggung beban banjir dari sungai yang mengalir ke hilir dari negara-negara tetangga.

Hampir 90.000 warga Mozambik diperkirakan berlindung di lokasi sementara, sementara ribuan lainnya masih terlantar di daerah banjir, lapor kantor berita AFP.

"Kami hidup dalam bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bencana yang hanya cocok dengan bencana besar," kata Correia. 

"Sayangnya, tidak ada seorang pun di kawasan dan di dunia yang bisa memprediksi bencana sebesar ini," pungkasnya.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More