Pantau Flash
Korsel Kucurkan USD74 Juta Garap Sistem Antidrone Antisipasi Ulah Korut
Menteri Energi Arab Saudi Targetkan Produksi Minyak Pulih Akhir September
Hindari Asap Karhutla, Satwa Liar Banyak Masuk ke Permukiman Warga
Karhutla di Indonesia Diprediksi hingga Akhir September
Data: Tren Penggunaan Robot pada Industri Indonesia Naik

Ternyata 'Ada Udang di Balik Batu' Investor Rebutan Unicorn RI

Headline
Ternyata 'Ada Udang di Balik Batu' Investor Rebutan Unicorn RI

Pantau.com - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)/Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) mengungkapkan alasan tingginya minat investor berinvestasi perusahaan perdagangan elektronik (electronic commerce/e-Commerce). 

Kepala Bappenas/Menteri PPN Bambang Brodjonegoro mengatakan, padahal perusahaan e-Commerce yang berstatus Unicorn sekalipun, banyak yang belum menghasilkan keuntungan bahkan masih merugi. 

"Kenapa sekarang orang berbondong-bondong Investasi di perusahaan e-Commerce padahal perusahaan nya rugi, yang saya sebut unicorn saja belum tentu untung banyak yang masih rugi, istilahnya bakar uang tapi investor berlomba-lomba ingin masuk," ujarnya pemaparan dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2019, di hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2019).

Baca juga: Saham Boeing Anjlok, Pihak Asuransi Kewalahan Hadapi Klaim

Menurut Bambang, yang diincar oleh para investor yakni Big Data. Sebab kata dia, data dianggap sebagai the future gold atau komoditas yang berharga di masa depan. 

"Ada satu yang mereka incar, yang kita sebut the future gold tapi bentuknya bukan gold, yakni data big data. Jadi investor besar itu mengincar big data," terangnya. 

Baca juga: Ini 12 Maskapai Penerbangan dengan Jumlah Boeing 737 Max Terbanyak

Sebelumnya ia juga menyinggung agar Kementerian Perdagangan memperhatikan perkembangan perdagangan elektronik (electronic commerce/e-Commmerce). Terutama terkait perkembangan perlindungan konsumen, khsusunya soal perlindungan data pribadi. 

"Data konsumen, jadi meski itu sesuatu yang menarik di masa depan, tapi pandangan ritel Kemendag pasti punya cara bagaimana memelihara perlrindungan konsumen," pungkasnya.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Reporter
Ratih Prastika
Category
Ekonomi

Berita Terkait: