Pantau Flash
Kata Mahfud, KPK Tak Bisa Kembalikan Mandat ke Presiden
Soal Revisi UU Minerba, Jonan: Pernyataan Pemerintah Bisa Pengaruhi Harga
Suasana Memanas, OKI Gelar Pertemuan Luar Biasa Bahas Aksi Paksa Israel
Jokowi Diminta untuk Segera Melantik 5 Pimpinan Baru KPK
Rizki/Della ke Final Vietnam Open 2019, Anggia/Pia Terhenti

Tragis! Diadili karena Nonton Bola, Perempuan Iran Tewas Bakar Diri

Headline
Tragis! Diadili karena Nonton Bola, Perempuan Iran Tewas Bakar Diri Larangan untuk menonton pertandingan sepakbola bagi perempuan di Iran sempat dicabut beberapa saat tahun 2018. (Foto: AP/Vahid Salemi via ABC News)

Pantau.com - Seorang perempuan Iran, Sahar Khodayari, melakukan aksi bunuh diri dengan cara membakar dirinya sendiri sebagai protes atas larangan menonton sepakbola bagi kaum wanita di negara itu.

Larangan Perempuan Menonton Bola di Iran

1. Sahar Khodayari menghadapi kemungkinan hukuman penjara enam bulan karena mau menonton pertandingan

2. Perempuan dilarang menonton sepakbola di Iran sejak Revolusi Islam di tahun 1979

3. Bintang internasional dan klub bersama FIFA menyerukan larangan itu dicabut

Media di Iran melaporkan bahwa Khodayari meninggal di rumahsakit beberapa hari lalu setelah mengalami luka bakar 90 persen. Khodayari juga dikenal dengan sebutan "Blue Girl" karena kostum biru klub yang didukungnya.

Melansir ABC News, Rabu (11/9/2019), ia membakar diri di depan gedung pengadilan dimana dia menghadapi tuduhan mencoba untuk masuk ke dalam stadion sepakbola. Dia mengatakan wig rambut palsu dan jaket untuk bisa menonton pertandingan tim favoritnya Esteghlal melawan klub Uni Emirat Arab Al Ain dalam pertandingan Liga Champions Asia bulan Maret lalu.

Baca juga: Iran Soal Perjanjian Nuklir 2015: Uni Eropa Gagal Total!

Hukuman maksimum yang bisa dikenakan terhadap Khodayari adalah enam bulan penjara karena melanggar larangan perempuan masuk ke stadion, larangan yang sudah diberlakukan sejak Revolusi Islam di tahun 1979.

Kematiannya tidak diberitakan oleh media pemerintah Iran, namun Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) mengeluarkan pernyataan bahwa mereka 'mengetahui adanya tragedi tersebut dan sangat menyayangkan hal tersebut terjadi."

"FIFA menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga dan teman-teman Sahar dan kembali menyerukan kepada pihak berwenang Iran untuk memastikan kebebasan dan keamanan bagi setiap perempuan yang terlibat dalam perjuangan untuk mengakhiri larangan perempuan menonton sepakbola di stadion." kata FIFA dalam pernyataannya.

Bintang sepakbola dukung larangan diakhiri


Di luar Iran, dukungan bagi pencabutan larangan perempuan menonton sepakbola ditunjukkan di pertandingan Piala Dunia di Rusia tahun 2018. (Foto: Reuters/Dylan Martinez)

Di Twitter, mantan pemain lapangan tengah klub Jerman Bayern Munchen Ali Karimi — yang pernah bermain 127 kali untk timnas Iran dan sudah lama mendukung pemcabutan larangan - mendesak para penonton iran untuk melakukan boikot untuk tidak hadir menonton untuk memperingati tewasnya Khodayari.

Bintang klub Inggris Manchester United Paul Pogba dan bintang sepakbola perempuan Swedia Magda Eriksson juga memberikan reaksi. Eriksson, yang memperkuat Swedia dalam pertandingan Piala Dunia perempuan 2019 meminta kepada FIFA dan 'semua organisasi lain yang memiliki kuasa' untuk 'bertindak guna menghentikan semua ini."

Pogba mendokan agar keluarga dan teman-teman Khodayari diberi 'kekuatan.'

Baca juga: AS Jatuhkan Sanksi pada Badan Antariksa dan Organisasi Penelitian Iran

Klub Italia AS Roma juga secara terbuka memberikan dukungan. "#ASRoma berwarna kuning dan merah namun hari ini darah kami berwarna biru untuk Sahar Khodayari. Permainan indah sepakboa ini dimaksukan untuk mempersatukan kita, bukan membela kita." tulis klub itu di Twitter.

"Sekarang waktunya bagi semua orang di Iran untuk diperkenankan menonton pertandingan sepakbola bersama-sama. RIP #BlueGirl."

Salah seorang anggota parlemen Iran yang terkenal Ali Motahari, yang dikenal dekat dengan Presiden Iran Hassan Rouhani juga berkomentar di Twitter dan mengatakan bahwa Khodayari seharusnya tidak dipenjara dan 'nasehat' saja sudah cukup.

Direktur Amnesty Internasional untuk Timur Tengah Philip Luther mengatakan kejahatan yang dilakukan Khodayari adalah 'menjadi perempuan di sebuah negara dimana perermpuan menghadapi diskriminasi yang ada dalam hukum yang berlaku. Larangan terhadap perempuan menghadiri pertandingan olahraga di stadion di Iran dicabut beberapa saat tahun lalu.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: