HOME  ⁄  Ekonomi

Produksi Padi Naik Tajam, Tapi Harga Beras Tetap Melonjak: Ini Penjelasan dan Solusinya

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Produksi Padi Naik Tajam, Tapi Harga Beras Tetap Melonjak: Ini Penjelasan dan Solusinya
Foto: (Sumber: Menurut data Badan Pusat Statistik pada April 2025, luas panen padi Indonesia mencapai 1,65 juta hektare dengan produksi padi diperkirakan sebanyak 9,09 juta ton gabah kering giling (GKG) yang jika dikonversikan menjadi beras diperkirakan mencapai sekitar 5,23 juta ton beras untuk konsumsi pangan penduduk. ANTARA FOTO/Aji Styawan/bar)

Pantau - Meski produksi padi nasional tahun 2025 naik hingga 50 persen dibanding tahun sebelumnya dan cadangan beras Bulog mencapai rekor tertinggi 4 juta ton, harga beras medium tetap melonjak di atas batas toleransi pemerintah dalam beberapa minggu terakhir.

Produksi Tidak Menjamin Harga Stabil

Pemerintah menyoroti bahwa kenaikan produksi tidak otomatis menjamin stabilitas harga.

Distribusi yang tidak merata dalam waktu dan wilayah tertentu membuat harga tetap terdongkrak, terutama saat periode paceklik.

Dugaan kuat mengarah pada peran middle man atau mafia beras yang mempermainkan rantai distribusi.

Middle man memiliki kekuatan besar karena industri beras dari hulu hingga hilir dikuasai swasta secara legal, sementara pemerintah dinilai lemah dalam kontrol distribusi dan stok meskipun terdapat kewajiban pelaporan gudang.

Kombinasi dari lemahnya kontrol dan dominasi middle man menyebabkan fluktuasi harga sulit ditekan.

Data nasional menunjukkan bahwa harga beras medium pada April–Juni 2025 berada pada kisaran Rp13.663–Rp14.066/kg, dengan rata-rata Rp13.943/kg.

Harga beras premium lebih tinggi, di kisaran Rp15.533–Rp15.847/kg, dengan rata-rata Rp15.748/kg.

Selisih antara keduanya tetap konsisten di angka 13 persen.

Fluktuasi Bersifat Siklikal dan Sistemik

Data BPS 2020–2024 menunjukkan harga beras medium meningkat secara tahunan meskipun sudah ditetapkan Harga Pokok Penjualan (HPP).

Lonjakan harga bersifat periodik dan berulang, terutama pada musim kering dan puncak tanam.

Faktor-faktor yang memicu ketidakstabilan harga meliputi:

  • Distribusi dan pasokan pasar yang tidak merata
  • Penurunan produktivitas dan konversi lahan
  • Dampak el nino 2024 terhadap produksi dan siklus panen
  • Biaya logistik tinggi dan rantai pasok panjang
  • Infrastruktur penyimpanan yang minim
  • Spekulasi pedagang
  • Informasi pasar yang tidak merata (asimetris)

Pada periode panen raya sekalipun, mafia beras tetap dapat memainkan harga gabah di bawah HPP.

Bulog sempat melakukan langkah luar biasa dengan membeli gabah tanpa rafaksi (tanpa pemotongan mutu), untuk mengurangi tekanan terhadap petani.

Lonjakan harga juga terjadi di luar pola musiman, seperti yang tercatat pada Juni–Juli 2025.

Petani, yang sebagian besar juga merupakan konsumen beras (net consumer), tidak memiliki daya tawar menghadapi gejolak harga ini.

Pola harga medium 2020–2025 menunjukkan dua lonjakan tetap tahunan, yaitu Februari–Maret (transisi paceklik ke panen raya) dan September–Oktober (saat stok menipis).

Tahun 2021 dan 2024 mencatat lonjakan tertinggi dengan kenaikan lebih dari 5 persen month-on-month.

Produksi tinggi pada tahun 2023 yang mencapai 31,1 juta ton tetap tidak mampu menahan lonjakan harga, karena indeks volatilitas harga naik 1,8 kali lipat dibanding tahun 2019.

Solusi Stabilisasi Harga: Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Pemerintah menyiapkan langkah stabilisasi harga beras melalui strategi jangka pendek berikut:

  • Operasi Pasar di 500 titik pasar tradisional, dengan target penjualan 50 ribu ton per bulan.
  • Peningkatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga 5 juta ton yang disebar ke daerah rawan.
  • Program Bantuan Pangan sebesar Rp300 ribu/bulan bagi 21,4 juta keluarga.
  • Sistem Monitoring Harian harga beras di 188 kabupaten/kota melalui Panel Harga Digital.

Tiga kesimpulan penting dari fenomena ini:

  • Produksi tinggi tidak menjamin harga stabil tanpa efisiensi distribusi dan pasar.
  • Fluktuasi harga beras bersifat siklikal dan dapat diprediksi.
  • Diperlukan solusi jangka pendek sekaligus reformasi struktural.

Untuk jangka panjang, pemerintah telah menyiapkan strategi yang diintegrasikan dalam roadmap transformasi pertanian 2025–2030, yaitu:

  • Modernisasi benih padi unggul, yang mampu meningkatkan produktivitas 15–20 persen di wilayah dengan hasil kurang dari 3 ton/hektar.
  • Pengurangan kehilangan hasil panen (losses) sebesar 5–8 persen.
  • Penguatan infrastruktur penyimpanan, termasuk pembangunan 150 silo modern dengan total kapasitas 1,5 juta ton serta sistem cold-chain.
  • Pengembangan platform digital, seperti sistem informasi harga real-time, marketplace B2B, dan big data analytics untuk prediksi harga dan produksi.
Penulis :
Aditya Yohan