
Pantau - Sudan memasuki tahun keempat konflik antara Angkatan Bersenjata Sudan dan Pasukan Pendukung Cepat yang menyebabkan krisis kemanusiaan dan ekonomi semakin parah di seluruh negeri.
Konflik yang berlangsung sejak 2023 tersebut telah menimbulkan sekitar 33.000 kematian yang tercatat di rumah sakit, menurut Kementerian Kesehatan Sudan.
Jumlah pengungsi internal sempat mencapai lebih dari 11 juta orang pada Januari 2025 sebelum menurun menjadi sekitar 9 juta orang berdasarkan data dari Organisasi Internasional untuk Migrasi.
Selain itu, sekitar 3,9 juta warga Sudan mengungsi ke negara-negara tetangga seperti Mesir, Chad, Libya, Sudan Selatan, Uganda, dan Ethiopia.
Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan menyatakan bahwa sekitar dua dari setiap tiga orang di Sudan kini membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Kondisi tersebut menjadikan krisis Sudan sebagai salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia.
Sedikitnya 4,2 juta anak berisiko mengalami malnutrisi.
Lebih dari 8 juta anak kehilangan akses pendidikan, yang oleh UNICEF disebut sebagai salah satu krisis pendidikan terburuk di dunia.
Krisis kelaparan telah dikonfirmasi terjadi di El Fasher dan Kadugli, dengan jutaan orang lainnya berisiko mengalami kelaparan di sekitar 20 wilayah sulit dijangkau.
Sekitar 37 persen fasilitas kesehatan di Sudan dilaporkan tidak beroperasi, sementara sekitar 21 juta warga membutuhkan layanan kesehatan menurut Organisasi Kesehatan Dunia.
Lebih dari 5 juta orang kehilangan sumber pendapatan akibat konflik yang berkepanjangan.
Lebih dari 70 persen warga kini hidup di bawah garis kemiskinan.
Data pengangguran tersebut berasal dari Organisasi Buruh Internasional dan serikat buruh Sudan.
Perang antara militer dan pasukan paramiliter di Sudan terus berlangsung tanpa tanda-tanda penyelesaian, dengan dampak luas terhadap stabilitas regional serta kondisi sosial ekonomi masyarakat.
- Penulis :
- Gerry Eka








