
Pantau - Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menyatakan bahwa Indonesia siap menjadi mercusuar pembangunan berkelanjutan di tingkat global, seiring dengan disampaikannya Voluntary National Review (VNR) keempat dalam forum High-Level Political Forum (HLPF) 2025 di Markas Besar PBB, New York.
"VNR 2025 bukan sekadar laporan, tetapi deklarasi strategis atas komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan. Dengan capaian 61,4 persen indikator SDGs nasional, Indonesia siap menjadi mercusuar pembangunan berkelanjutan di tingkat global," ujar Febrian dalam forum yang berlangsung pada 14–23 Juli 2025.
Indonesia menjadi satu dari empat negara yang secara konsisten menyampaikan VNR, dan tahun ini termasuk dalam 35 negara yang melaporkannya di bawah tema “Advancing Sustainable, Inclusive, Science- and Evidence-Based Solutions for the 2030 Agenda.”
Capaian Strategis Indonesia dalam SDGs 2025
Dalam laporan VNR 2025, Indonesia menyoroti berbagai pencapaian kunci di bidang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), antara lain:
Kesehatan (SDG 3): Penurunan rasio kematian ibu serta cakupan JKN yang telah menjangkau 98,8 persen penduduk.
Kesetaraan gender (SDG 5): Sebanyak 22 persen kursi parlemen diisi oleh perempuan, dan 35 persen perempuan menduduki posisi manajerial per 2024.
Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8): PDB per kapita pulih berkat dukungan terhadap UMKM dan program pelatihan kerja.
Ekosistem laut (SDG 14): Perluasan kawasan lindung laut hingga 29,9 juta hektare.
Kemitraan global (SDG 17): Keikutsertaan Indonesia dalam 38 perjanjian dagang internasional.
Selain capaian indikator, VNR 2025 juga menekankan integrasi data sosial ekonomi melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), serta pelibatan luas pemangku kepentingan dan audit SDGs oleh BPK sebagai bentuk penguatan tata kelola kebijakan.
Inisiatif Inovatif dan Dukungan bagi Negara Berkembang
Pemerintah Indonesia memperkenalkan sejumlah inisiatif inovatif untuk mempercepat Agenda 2030, seperti:
Pendirian SDG Center di 61 perguruan tinggi sebagai pusat koordinasi pembangunan berkelanjutan.
Pemanfaatan energi terbarukan di wilayah timur Indonesia guna memperkuat kemandirian energi.
Pengembangan ekonomi biru, termasuk konservasi mangrove dan budidaya rumput laut.
Febrian menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya berfokus pada pencapaian nasional, tetapi juga aktif mendukung negara berkembang melalui skema pembiayaan inovatif.
"Indonesia tidak hanya fokus pada pencapaian nasional, tetapi juga aktif mendukung negara berkembang melalui kerja sama dan pembiayaan inovatif seperti blended finance dan obligasi SDGs," ujarnya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa tantangan global seperti kesenjangan sosial dan krisis pangan masih menjadi isu prioritas yang harus ditanggulangi dengan penguatan kemandirian di sektor pangan, energi, dan air.
"VNR 2025 diharapkan menjadi katalis untuk memperkuat kolaborasi lintas pemangku kepentingan, termasuk generasi muda sebagai agen perubahan, demi tercapainya Agenda 2030," pungkas Febrian.
- Penulis :
- Aditya Yohan








