
Pantau - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat di Selat Hormuz setelah Washington menerapkan pembatasan maritim usai gagalnya perundingan kedua negara di Islamabad pada pertengahan April 2026.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Geopolitik
Langkah Amerika Serikat tersebut dilakukan sebagai bentuk tekanan ekonomi dan keamanan terhadap Iran sekaligus menjaga kelancaran pelayaran internasional.
Selat Hormuz kembali menjadi sorotan global karena merupakan jalur vital distribusi energi dunia dengan volume besar perdagangan minyak dan gas yang melintas setiap hari.
Situasi ini memperlihatkan meningkatnya persaingan pengaruh antara dua kekuatan besar dalam mengendalikan jalur strategis tersebut.
Iran melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menegaskan pengaturan lalu lintas kapal merupakan bagian dari kedaulatan negaranya.
Dampak Global dan Risiko Keamanan Energi
Ketegangan di kawasan tersebut berdampak luas terhadap stabilitas perdagangan energi global dan keamanan pelayaran internasional.
“Respons dari berbagai negara menunjukkan bahwa eskalasi ini membawa implikasi yang melampaui kawasan,” demikian disampaikan dalam analisis tersebut.
Dalam perspektif hukum internasional, kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara penggunaan kekuatan dan prinsip penyelesaian sengketa secara damai.
Situasi di Selat Hormuz dinilai semakin kompleks karena kedua pihak sama-sama mengklaim legitimasi atas pengelolaan jalur strategis tersebut.
Eskalasi ini juga meningkatkan risiko terhadap keamanan energi global mengingat Selat Hormuz menyumbang sekitar 20 persen distribusi energi dunia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








