
Pantau - Lembaga kajian Prasasti Center dan BACenter menilai Indonesia memerlukan lompatan besar pada tahun 2026, menyusul kemunduran di berbagai indikator daya saing global, produktivitas tenaga kerja, dan inovasi teknologi dalam beberapa tahun terakhir.
Ketua Dewan Pembina BACenter, Burhanuddin Abdullah, menyatakan bahwa kondisi saat ini bukan lagi sekadar kesenjangan, melainkan telah menjadi “jurang peradaban.”
"Ini bukan sekadar kesenjangan, tetapi jurang peradaban," ungkapnya dalam evaluasi akhir tahun yang dirilis Selasa, 30 Desember 2025.
Indonesia Tertinggal dalam Talenta, Produktivitas, dan Inovasi
Beberapa indikator yang menjadi sorotan utama meliputi:
Indeks Daya Saing Talenta Global: Indonesia turun dari peringkat 65 (2020) ke 73 (2024).
Indeks Modal Manusia (HCI): Skor hanya 0,56, lebih rendah dibanding Malaysia dan Vietnam.
Produktivitas Tenaga Kerja: Indonesia US$28.000/pekerja, jauh di bawah Malaysia (US$55.000) dan Singapura (>US$150.000).
Jumlah Paten: Indonesia hanya mencatat 84 paten per juta penduduk dalam 23 tahun terakhir, tertinggal dari Singapura (22.000+) dan Korea Selatan (93.000+).
Rekomendasi: Lompatan, Bukan Perbaikan Bertahap
Prasasti-BACenter menekankan perlunya gebrakan konkret di bidang:
Peningkatan gizi masyarakat dan pembangunan ekonomi desa
Penguatan sumber daya manusia unggul dan kompetitif
Tata kelola sumber daya alam yang berkelanjutan untuk mencegah bencana
Dorongan terhadap riset, inovasi, dan produktivitas nasional
Meski demikian, Prasasti-BACenter mengapresiasi beberapa langkah positif pemerintah sepanjang 2025, seperti fokus pada kualitas pendidikan dan gizi, serta kekuatan gotong royong masyarakat saat menghadapi bencana.
Tanpa lompatan signifikan pada 2026, kedua lembaga tersebut memperingatkan bahwa Indonesia berisiko makin tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
- Penulis :
- Gerry Eka








