Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Bulog Targetkan Serap 4 Juta Ton Beras dan 1 Juta Ton Jagung dari Petani pada 2026

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Bulog Targetkan Serap 4 Juta Ton Beras dan 1 Juta Ton Jagung dari Petani pada 2026
Foto: (Sumber: Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dalam jumpa pers bertajuk Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategis 2026 di Jakarta, Jumat (2/1/2026). ANTARA/Harianto.)

Pantau - Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan bahwa pihaknya menargetkan penyerapan empat juta ton setara beras dan satu juta ton jagung dari petani selama tahun 2026 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional.

Strategi Penyerapan dan Penguatan Infrastruktur

Target empat juta ton beras tersebut ditetapkan berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

"Ya ini rencana strategis Bulog ke depan, rencana strategis 2026, yang pertama adalah ke depan Bulog akan melaksanakan serapan sesuai dengan keputusan Rakortas adalah empat juta ton," ungkap Rizal.

Penyerapan ini bertujuan menjaga stok nasional serta memastikan hasil panen petani dapat terserap optimal.

Selain beras, Bulog juga akan menyerap satu juta ton jagung sebagai cadangan pangan sekaligus menstabilkan harga pakan ternak.

Untuk mendukung peningkatan serapan tersebut, Bulog berencana membangun 100 infrastruktur pascapanen, termasuk gudang baru, rice milling unit (RMU), dan fasilitas pendukung lainnya di sentra produksi padi.

Bulog juga mendapat penugasan untuk menyerap minyak goreng rakyat sebanyak 35 persen dari domestic market obligation (DMO) nasional pada tahun 2026.

Langkah ini bertujuan menjaga ketersediaan dan harga minyak goreng rakyat, khususnya Minyakita.

Penyaluran Bantuan dan Stabilitas Harga

Dari sisi penyaluran, Bulog menargetkan distribusi bantuan pangan berupa beras sebanyak 720 ribu ton selama empat bulan kepada 18 juta penerima manfaat.

Program ini difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat rentan dan meredam tekanan harga pangan dalam periode tertentu.

Sementara itu, Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk beras ditargetkan mencapai 1,5 juta ton sepanjang tahun 2026.

Penyaluran SPHP akan disesuaikan dengan puncak panen yang diperkirakan terjadi pada Maret, April, dan Agustus.

Di sentra produksi, volume SPHP akan dikurangi agar tidak terjadi kelebihan pasokan di pasar lokal, sedangkan di wilayah non-sentra produksi, distribusi tetap berjalan normal.

Bulog juga telah menyiapkan cadangan beras untuk keadaan darurat sebanyak 25 ribu ton guna menghadapi potensi bencana atau situasi darurat lainnya.

Capaian 2025 Jadi Fondasi Program 2026

Hingga 31 Desember 2025, Bulog telah mengadakan gabah setara beras sebesar 3.191.969 ton.

Jumlah ini berasal dari penyerapan 4.537.490 ton Gabah Kering Panen (GKP), 6.863 ton Gabah Kering Giling (GKG), dan 765.504 ton beras.

Capaian tersebut menjadi fondasi penting dalam memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan menjaga stabilitas produksi serta pendapatan petani.

Dalam hal jagung, Bulog mencatat pengadaan dalam negeri sebesar 101.968 ton, yang terdiri dari 101.770 ton melalui skema PSO dan 198 ton secara komersial.

Langkah ini diambil untuk memastikan keberlanjutan pasokan jagung nasional serta menjaga harga di tingkat produsen.

Di sisi distribusi, Bulog telah menyalurkan hampir 785 ribu ton bantuan pangan sebagai bagian dari perlindungan sosial bagi masyarakat rentan.

Penyaluran SPHP beras mencapai 802.939 ton, sementara SPHP jagung sebesar 51.211 ton, menjadikan program ini sebagai instrumen penting dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga.

Hingga akhir 2025, stok PSO Bulog tercatat sebesar 3,25 juta ton, melanjutkan tren positif dari pencapaian stok tertinggi sepanjang sejarah yaitu 4,2 juta ton pada pertengahan tahun.

Untuk kondisi darurat, Bulog juga telah menyalurkan 14.227 ton bantuan bencana di wilayah Sumatera, dengan rincian Aceh 8.676 ton, Sumatera Utara 4.482 ton, dan Sumatera Barat 1.069 ton.

Penulis :
Gerry Eka
Editor :
Tria Dianti