
Pantau - Laju inflasi nasional menutup tahun 2025 dengan akselerasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Desember mengalami kenaikan 0,64 persen secara bulanan dan 2,92 persen secara tahunan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa angka tersebut sekaligus merepresentasikan inflasi tahunan penuh. Pasalnya, inflasi year-on-year dan year-to-date dihitung pada titik yang sama, yakni perbandingan IHK Desember 2025 terhadap Desember 2024.
“Inflasi year to date pada akhir tahun otomatis sama dengan inflasi tahunan karena membandingkan dua periode Desember,” ujar Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Tekanan harga sepanjang 2025 terutama datang dari kelompok makanan. Komponen ini mencatat inflasi 1,66 persen dengan kontribusi terhadap inflasi nasional sebesar 0,48 persen, menjadikannya faktor dominan pendorong kenaikan harga.
Capaian inflasi 2025 tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, inflasi tahunan hanya berada di level 1,57 persen, yang sekaligus menjadi rekor inflasi terendah dalam sejarah Indonesia.
Sebelumnya, pasar telah mengantisipasi lonjakan harga di akhir tahun. Berdasarkan konsensus 12 lembaga yang dihimpun CNBC Indonesia, inflasi bulanan Desember diproyeksikan berada di kisaran 0,62 persen, sementara inflasi tahunan diperkirakan mencapai 2,94 persen.
Konsensus yang sama juga memproyeksikan inflasi inti Desember 2025 berada di level 2,44 persen secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.
Sebagai perbandingan, pada November 2025 inflasi tercatat sebesar 0,17 persen secara bulanan dan 2,72 persen secara tahunan. Sementara inflasi inti pada periode tersebut berada di level 2,36 persen.
Dengan demikian, data Desember menjadi penentu akhir inflasi sepanjang 2025, sekaligus mencerminkan tekanan harga yang meningkat seiring menguatnya permintaan di penghujung tahun.
- Penulis :
- Khalied Malvino







