Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Ekspor RI November 2025 Ambruk 6,6%, Jauh Lebih Buruk dari Prediksi

Oleh Khalied Malvino
SHARE   :

Ekspor RI November 2025 Ambruk 6,6%, Jauh Lebih Buruk dari Prediksi
Foto: Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/1/2026)/ (ANTARA/Aji Cakti)

Pantau - Kinerja ekspor Indonesia kembali terpukul pada November 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor hanya mencapai US$22,52 miliar, turun tajam 6,6 persen secara tahunan dibandingkan November 2024 yang berada di level US$24,11 miliar.

Capaian ini jauh di bawah ekspektasi pasar. Konsensus analis sebelumnya memproyeksikan kontraksi ekspor hanya sekitar 1,6 persen yoy, setelah Oktober 2025 juga mencatat pelemahan sebesar 2,31 persen yoy.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan tekanan paling besar datang dari sektor nonmigas. Pada November 2025, ekspor migas anjlok 32,88 persen dengan nilai US$880 juta, sementara ekspor nonmigas turun 5,09 persen menjadi US$21,64 miliar.

“Kontraksi ekspor November 2025 secara tahunan terutama disebabkan oleh penurunan ekspor nonmigas, khususnya komoditas bahan bakar mineral yang turun 18,89 persen dengan kontribusi minus 2,77 persen terhadap total ekspor,” ujar Pudji dalam konferensi pers, Senin (5/1/2026).

Selain bahan bakar mineral, tekanan juga datang dari kelompok lemak dan minyak hewani maupun nabati yang merosot 18,81 persen dengan andil penurunan 2,12 persen. Komoditas besi dan baja turut melemah 17,41 persen dan menyumbang penurunan 1,71 persen terhadap kinerja ekspor nasional.

Secara bulanan, performa ekspor November juga menunjukkan pelemahan lanjutan dibanding Oktober 2025 yang sudah lebih dulu terkontraksi 2,31 persen yoy.

Data konsensus Bloomberg memperlihatkan mayoritas ekonom memang telah memprediksi ekspor masih berada di zona negatif pada November, dengan estimasi median minus 1,6 persen yoy. Namun realisasi kontraksi jauh lebih dalam dari perkiraan.

Di tengah tekanan ekspor, impor justru mulai menunjukkan tanda pemulihan. Konsensus pasar memproyeksikan impor November tumbuh 3,81 persen yoy, berbalik dari kontraksi 1,15 persen pada Oktober. Kondisi ini mengindikasikan mulai pulihnya permintaan domestik dan meningkatnya kebutuhan bahan baku industri.

Penulis :
Khalied Malvino