Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Harga Minyak Mentah Indonesia Turun ke 61,1 Dolar AS per Barel, Dipicu Kelebihan Pasokan Global dan Penurunan Permintaan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Harga Minyak Mentah Indonesia Turun ke 61,1 Dolar AS per Barel, Dipicu Kelebihan Pasokan Global dan Penurunan Permintaan
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Kegiatan ekspolasi minyak lepas pantai di perairan Indonesia. ANTARA FOTO/Moch Asim/hp/aa.)

Pantau - Harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada Desember 2025 tercatat turun menjadi 61,10 dolar AS per barel, menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Penurunan ini sebesar 1,73 dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 62,83 dolar AS per barel.

Kekhawatiran Oversupply Global Jadi Pemicu Utama

Kementerian ESDM menyatakan bahwa penurunan ICP disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap narasi super glut atau kelebihan pasokan minyak global.

“Penurunan angka ICP pada bulan Desember 2025 diakibatkan kekhawatiran pasar akan narasi super glut atau kelebihan pasokan, serta kondisi oversupply minyak dunia yang dipengaruhi oleh produksi Amerika Serikat yang tinggi,” ungkap Kementerian ESDM dalam keterangan resminya.

Selain produksi tinggi dari Amerika Serikat, peningkatan suplai dari negara-negara anggota OPEC+ juga berkontribusi terhadap penurunan harga.

Produksi OPEC+ pada November 2025 tercatat meningkat menjadi 43,1 juta barel per hari (bph), naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

OPEC pun merevisi proyeksi pertumbuhan produksi dari negara-negara non-OPEC+ pada tahun 2025 menjadi naik sebesar 0,95 juta bph, atau meningkat 40 ribu bph dari proyeksi sebelumnya.

Sementara itu, S&P Global turut menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2025 sebesar 16 ribu bph menjadi hanya 730 ribu bph.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), pasar minyak global pada tahun 2026 diproyeksikan mengalami surplus sebesar 3,7 hingga 4 juta bph, melebihi stok saat pandemi COVID-19.

Penurunan ICP Terpengaruh Risiko Geopolitik dan Tren Regional

Penurunan ICP juga dikaitkan dengan faktor geopolitik dan tren pasar di kawasan Asia.

Laode Sulaeman menyampaikan bahwa meredanya risiko geopolitik akibat konflik Rusia–Ukraina turut memengaruhi penurunan harga.

Pejabat Rusia memperkirakan produksi minyak negara tersebut akan naik menjadi 10,36 juta bph pada 2025 dan 10,54 juta bph pada 2026.

Untuk kawasan Asia Pasifik, harga minyak ikut tertekan oleh turunnya crude throughput China sebesar 0,9 persen secara month over month (mom) pada November 2025, menjadi 14,86 juta bph—angka terendah dalam enam bulan terakhir.

Kementerian ESDM menegaskan, “Penurunan ICP bulan Desember disebabkan peningkatan suplai minyak dunia.”

Penetapan ICP Desember 2025 sebesar 61,10 dolar AS per barel dicantumkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 10.K/MG.03/MEM.M/2026.

Harga Minyak Dunia Juga Mengalami Penurunan

Rata-rata harga minyak mentah utama dunia pada Desember 2025 juga tercatat menurun dibandingkan bulan sebelumnya.

  • Dated Brent turun 0,95 dolar menjadi 62,70 dolar/barel
  • WTI (Nymex) turun 1,61 dolar menjadi 57,87 dolar/barel
  • Brent (ICE) turun 2,02 dolar menjadi 61,64 dolar/barel
  • Basket OPEC turun 2,61 dolar menjadi 61,85 dolar/barel
  • ICP Indonesia turun 1,73 dolar menjadi 61,10 dolar/barel

Penurunan ini mencerminkan tekanan pasar yang signifikan akibat lonjakan pasokan global dan turunnya proyeksi permintaan, terutama dari kawasan Asia dan negara-negara industri besar.

Penulis :
Ahmad Yusuf