Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Swasembada Pangan Dinilai Jadi Fondasi Ketahanan Indonesia Hadapi Dinamika Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Swasembada Pangan Dinilai Jadi Fondasi Ketahanan Indonesia Hadapi Dinamika Global
Foto: (Sumber: Buruh tani menyunggi padi hasil panen di areal persawahan Desa Kauman, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (13/1/2026). ANTARA Jatim/Destyan Sujarwoko..)

Pantau - Dinamika global yang semakin tidak menentu mendorong setiap negara mempersiapkan diri dengan berbagai cara, namun ketahanan pangan dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas nasional di tengah ancaman multi-krisis.

Sebagian negara memperkuat kekuatan militer dan mengembangkan teknologi persenjataan terkini sebagai ukuran umum kemajuan bangsa dalam catatan global.

Ukuran tersebut mendorong banyak negara berlomba mengembangkan teknologi tinggi, termasuk persenjataan berbasis kecerdasan buatan, hingga menjadi satu kebenaran bersama dalam menilai kemajuan.

Akibatnya, sejumlah negara dinilai melupakan pengembangan potensi lokal yang seharusnya disesuaikan dengan kondisi geografis serta sumber daya alam dan manusia masing-masing.

Pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa ancaman terhadap keamanan manusia tidak selalu berasal dari senjata atau konflik bersenjata.

Ancaman biologis yang tidak kasat mata terbukti mampu melumpuhkan berbagai negara dalam waktu singkat.

Selain itu, kebutuhan pangan akibat dinamika global juga menjadi ancaman serius bagi keamanan manusia.

Ketahanan pangan merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.

Negara dengan sistem pangan yang rapuh dinilai sangat rentan terhadap guncangan internal maupun tekanan eksternal.

Sejarah mencatat banyak konflik sosial dan politik berakar dari krisis pangan, kelangkaan pasokan, lonjakan harga, serta ketergantungan impor.

Kondisi tersebut berpotensi memicu ketidakstabilan sosial dan melemahkan legitimasi pemerintah.

Presiden Republik Indonesia Prabowo menilai ancaman global tersebut telah diukur melalui kebijakan swasembada pangan nasional.

Indonesia secara resmi dinyatakan telah mencapai swasembada beras per 31 Desember 2025 di tengah tantangan El Nino dan kekeringan berkepanjangan sepanjang 2024 hingga 2025.

Capaian tersebut memberikan rasa tenang bagi masyarakat karena ketersediaan pangan dinilai terjamin.

Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras nasional per Desember 2025 mencapai 34,71 juta ton atau surplus sekitar 4 juta ton dibandingkan kebutuhan nasional.

Produksi tersebut tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia.

Ketangguhan sektor pangan nasional dinilai menunjukkan kekuatan Indonesia dalam menghadapi tekanan iklim dan dinamika global.

Capaian swasembada pangan Indonesia juga memberikan dampak signifikan terhadap pasar global.

Harga beras dunia tercatat turun hingga 44 persen dari 650 dolar Amerika Serikat per metrik ton menjadi 340 dolar Amerika Serikat berdasarkan panel The FAO All Rice Price Index atau FARPI.

FARPI mencatat indeks harga terendah lima tahun terakhir terjadi pada November 2025 di level 96,9.

Pada 2021 dan 2025, Indonesia tercatat tidak melakukan impor beras untuk cadangan beras pemerintah.

Kondisi tersebut menunjukkan besarnya pengaruh Indonesia terhadap stabilitas harga beras internasional.

Penulis :
Aditya Yohan