Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Pakar Ekonomi Unej: Indonesia Harus Manfaatkan WEF Davos untuk Tarik Investasi Global dan Tampilkan Diri sebagai Solusi Globa

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pakar Ekonomi Unej: Indonesia Harus Manfaatkan WEF Davos untuk Tarik Investasi Global dan Tampilkan Diri sebagai Solusi Globa
Foto: (Sumber: Pakar ekonomi Universitas Jember Adhitya Wardhono, PhD. ANTARA/Dok pribadi..)

Pantau - Pakar ekonomi Universitas Jember (Unej), Adhitya Wardhono, PhD, menilai bahwa Indonesia harus memanfaatkan ajang World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, sebagai panggung strategis untuk menarik investasi global dan memperkuat posisi ekonomi dalam tatanan global yang penuh ketidakpastian.

Acara WEF yang digelar di Davos dihadiri sekitar 3.000 peserta dari hampir 130 negara, dengan tema tahun ini adalah "A Spirit of Dialogue".

"WEF adalah panggung emas untuk menarik investasi global, dan Presiden Prabowo harus memanfaatkannya," ujar Adhitya.

Sektor Potensial: Energi Hijau, Teknologi Digital, dan Hilirisasi SDA

Menurut Adhitya, Indonesia perlu mempromosikan sektor-sektor unggulan seperti energi hijau, teknologi digital, dan hilirisasi sumber daya alam (SDA).

Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan kelas menengah yang terus tumbuh, pasar domestik Indonesia menjadi daya tarik kuat bagi investor asing.

"Ditambah lagi, Indonesia kaya akan sumber daya alam, yang bisa dimanfaatkan untuk kerja sama infrastruktur dan energi terbarukan. Lewat hilirisasi sumber daya alam, Indonesia bisa memperkuat ekonomi domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor," jelasnya.

Data dari BKPM menunjukkan bahwa realisasi investasi asing langsung (FDI) Indonesia pada 2025 mencapai Rp900,9 triliun, dengan sektor teknologi, infrastruktur, dan manufaktur sebagai penopang utama.

Adhitya menekankan bahwa kehadiran Indonesia di WEF tidak boleh hanya bersifat seremonial, tetapi harus menjadi langkah strategis untuk mengokohkan posisi Indonesia dalam peta ekonomi global.

Indonesia sebagai Jembatan Global dan Solusi di Tengah Ketegangan Dunia

Adhitya menilai, dunia saat ini tengah menghadapi ketidakpastian global seperti konflik geopolitik dan fragmentasi perdagangan internasional, sehingga diperlukan diplomasi ekonomi yang aktif.

"Terlebih dalam dunia yang penuh ketidakpastian, Indonesia harus aktif mengambil peran, bukan sekadar menunggu. Meski dengan tema WEF kali ini seakan memberi sinyal bahwa dunia sedang memasuki era baru di mana isu-isu krusial seperti perdagangan, keuangan, dan teknologi digunakan sebagai alat untuk saling mempengaruhi," terangnya.

Ia mendorong Indonesia untuk memperkuat posisinya di forum global seperti G20 dan WTO, serta menjadi jembatan yang menghubungkan negara maju dan berkembang.

"Indonesia harus menjadi solusi bagi ketegangan global, baik itu dalam energi, perdagangan, atau diplomasi ekonomi," tegasnya.

Transisi Energi dan Digitalisasi Jadi Kunci Daya Saing

Adhitya menyoroti bahwa Indonesia memiliki peluang besar dalam transisi energi karena memiliki cadangan panas bumi terbesar di dunia, yaitu 24 Giga Watt atau 40 persen dari total cadangan panas bumi global.

"Indonesia harus memanfaatkan WEF untuk menunjukkan kesiapan kita dalam menyediakan solusi berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil," ujarnya.

Selain sektor energi, digitalisasi juga disebut sebagai kunci pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

"Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai USD 130 miliar pada 2030. Digitalisasi bukan hanya tren, itu adalah kunci bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia," tambah Adhitya.

Dengan proyeksi PDB Indonesia mencapai USD 1,44 triliun pada 2025 menurut IMF, Indonesia adalah ekonomi terbesar di ASEAN dan memiliki potensi kuat sebagai mitra strategis kawasan.

Adhitya menutup dengan harapan bahwa Indonesia mampu tampil sebagai pemain utama di Asia Tenggara dalam WEF 2026, tidak hanya untuk investasi, tapi juga dalam peran strategis menyikapi isu-isu global.

Penulis :
Ahmad Yusuf