Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Jumlah Kelas Menengah Turun Tajam, BPS Ungkap Ancaman Serius bagi Ekonomi Nasional

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Jumlah Kelas Menengah Turun Tajam, BPS Ungkap Ancaman Serius bagi Ekonomi Nasional
Foto: (Sumber: Penumpang KRL Commuter Line memadati peron di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/1/2026). ANTARA FOTO/ARIF FIRMANSYAH.)

Pantau - Kelas menengah di Indonesia masih menjadi segmen dominan dan krusial sebagai penopang perekonomian nasional, namun jumlahnya tercatat mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah kelas menengah turun sebesar 17,13 persen dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024.

Penurunan tersebut setara dengan 9,48 juta orang yang sebagian besar turun kelas ke kelompok menuju kelas menengah atau aspiring middle class.

Perubahan Struktur Kelas Menengah

Badan Pusat Statistik mengklasifikasikan kelas menengah sebagai kelompok dengan pengeluaran per kapita bulanan antara Rp2.132.060 hingga Rp10.355.720.

Kelompok aspiring middle class didefinisikan sebagai penduduk dengan pengeluaran per kapita bulanan antara Rp874.398 hingga Rp2.040.262.

Kelompok aspiring middle class menjadi kelompok terbesar di Indonesia dengan jumlah mencapai 137,5 juta orang atau hampir 50 persen dari total penduduk.

Kelompok ini berada dalam kondisi rentan karena posisinya mendekati ambang batas garis kemiskinan.

Secara total, dua tahun lalu gabungan kelas menengah dan aspiring middle class mencapai 66,35 persen dari total penduduk Indonesia.

Gabungan kedua kelompok tersebut menyumbang sekitar 81,49 persen dari total konsumsi rumah tangga nasional.

Tekanan Ekonomi dan Dampak Nasional

Penurunan signifikan jumlah kelas menengah dan kelompok aspiring middle class berpotensi berdampak pada pelemahan perekonomian nasional.

Kerentanan kelompok ini meningkat akibat pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19 yang masih belum sepenuhnya stabil.

Tekanan inflasi dan biaya hidup yang semakin tinggi turut memperberat kondisi ekonomi kelas menengah.

Isu ketenagakerjaan seperti badai pemutusan hubungan kerja dan penyerapan tenaga kerja yang belum masif memperbesar tekanan ekonomi masyarakat.

Dalam kondisi tersebut, banyak kelas menengah harus bertahan dalam situasi ekonomi yang semakin pas-pasan.

Penulis :
Ahmad Yusuf
Editor :
Ahmad Yusuf