Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp16.923 per Dolar AS pada Jumat Pagi, Sentimen Konflik Global Tekan Pasar

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp16.923 per Dolar AS pada Jumat Pagi, Sentimen Konflik Global Tekan Pasar
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Lembaran mata uang rupiah dan dollar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/kye/aa..)

Pantau - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta pada Jumat pagi tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Rupiah melemah sebesar 30 poin atau sekitar 0,18 persen menjadi Rp16.923 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp16.893 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global.

Ia mengatakan bahwa "Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh global meningkatnya ketidakpastian berakhirnya perang Iran melawan AS-Israel yang mengakibatkan pelaku pasar menghindari aset berisiko (risk off) seperti rupiah yang menyebabkan index dollar meningkat,".

Kondisi tersebut membuat para pelaku pasar cenderung menghindari aset yang dianggap berisiko.

Rupiah termasuk salah satu aset yang terdampak karena investor beralih ke instrumen yang dinilai lebih aman.

Situasi tersebut juga mendorong penguatan indeks dolar Amerika Serikat di pasar global.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah pernyataan dari pejabat Iran terkait konflik dengan Amerika Serikat.

Mengutip Sputnik, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ari Larijani menyatakan bahwa Iran akan membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump membayar atas agresi terhadap Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Ari Larijani pada Kamis 12 Maret.

Larijani juga menyindir Donald Trump dengan menyatakan bahwa perang tidak dapat dimenangkan hanya melalui beberapa cuitan di media sosial.

Ia menegaskan keputusan menyerang Iran akan menjadi kesalahan perhitungan yang serius.

Sementara itu Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran "hampir berada di ujung jalan."

Trump juga mengancam akan menghancurkan kapasitas listrik Iran dalam waktu satu jam.

Namun ia menyatakan harapannya agar langkah tersebut tidak perlu dilakukan.

Selain faktor global, sentimen domestik juga mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

Kekhawatiran pelaku pasar muncul terkait potensi defisit anggaran akibat kenaikan subsidi yang dipicu meningkatnya harga minyak dunia.

Pelaku pasar juga menyoroti disiplin fiskal pemerintah dalam mengelola anggaran negara.

Rully Nova mengatakan bahwa "Sementara dari domestik, (sentimen) terkait kekhawatiran pelaku pasar terhadap defisit anggaran dampak dari kenaikan subsidi yang dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dan disiplin fiskal pemerintah,".

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2026 mencatat defisit sebesar 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto hingga akhir Februari 2026.

Nilai defisit tersebut setara dengan Rp135,7 triliun.

Secara keseluruhan APBN 2026 diproyeksikan mengalami defisit sebesar Rp698,15 triliun.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 2,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia.

Penulis :
Aditya Yohan