Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Defisit APBN 2025 Hampir Sentuh Batas 3 Persen, Menkeu Tegaskan Tak Ganggu Sentimen Pasar Saham

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Defisit APBN 2025 Hampir Sentuh Batas 3 Persen, Menkeu Tegaskan Tak Ganggu Sentimen Pasar Saham
Foto: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan media dalam wawancara cegat di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat 30/1/2026 (sumber: ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

Pantau - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang mendekati ambang batas 3 persen tidak berdampak pada sentimen pasar saham nasional.

"Nggak ada (pengaruh). Kan masih di bawah 3 persen," ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Jumat.

Defisit APBN 2025 Meningkat, Masih Dalam Batas Aman

Berdasarkan realisasi sementara APBN 2025, defisit fiskal tercatat sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari produk domestik bruto (PDB) per 31 Desember 2025.

Angka tersebut lebih besar dibandingkan target awal dalam APBN 2025 sebesar 2,53 persen dan juga melebihi proyeksi dalam laporan semester yang sebesar 2,78 persen.

Dengan demikian, defisit APBN 2025 hampir menyentuh ambang batas yang ditetapkan dalam undang-undang, yaitu 3 persen dari PDB.

Meski demikian, Purbaya menilai bahwa kinerja fiskal tersebut mencerminkan kemampuan Indonesia dalam menerapkan kebijakan countercyclical secara hati-hati dan tidak melanggar aturan fiskal.

Ia juga menjelaskan bahwa perekonomian nasional mengalami dinamika cukup besar sepanjang 2025, terutama pada triwulan III.

"Saya bilang ekonomi kita masuk triwulan III 2025 itu memburuk sekali. Saya mesti balik arah ekonomi, harus memberikan stimulus dari segala arah yang saya bisa. Dan itu sudah saya lakukan tanpa melanggar prudensi dari pengolahan kebijakan fiskal," jelas Purbaya.

Menurutnya, upaya mitigasi fiskal yang dilakukan pemerintah telah mendapat apresiasi dari Bank Dunia.

Pasar Modal Tertekan, BEI Lakukan Trading Halt Dua Hari Berturut-turut

Di sisi lain, pasar modal Indonesia mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir yang memicu aksi penghentian sementara perdagangan atau trading halt.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan trading halt pertama pada Rabu (28/1) pukul 13.43 WIB setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sebesar 8 persen melalui sistem Jakarta Automated Trading System (JATS).

Keesokan harinya, Kamis (29/1) pukul 09.26 WIB, BEI kembali menghentikan perdagangan sementara karena IHSG kembali melemah 8 persen.

Saat itu, IHSG tercatat turun sebesar 665,89 poin atau 8,00 persen ke level 7.654,66.

Perdagangan kemudian dilanjutkan kembali pada pukul 09.56 WIB tanpa perubahan jadwal sesi.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas gejolak pasar tersebut, Direktur Utama BEI Iman Rachman mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat (30/1).

Untuk menjaga keberlangsungan kepemimpinan dan operasional BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menunjuk pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama BEI sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Penulis :
Leon Weldrick