
Pantau - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menargetkan sertifikasi Indikasi Geografis (IG) untuk komoditas unggulan Kopi Prangat pada tahun 2026 sebagai langkah strategis memperkuat daya saing produk perkebunan lokal.
Kopi Prangat berasal dari Kampung Kopi Luwak di Desa Prangat Baru, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Taufiq Kurrahman, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim menyatakan, "Kami menargetkan pada tahun 2026 satu lagi komoditas akan meraih Indikasi Geografis (IG), yakni Kopi Prangat yang berasal dari Kampung Kopi Luwak di Desa Prangat Baru, Kutai Kartanegara."
Tiga Komoditas Kaltim Telah Kantongi IG
Sebelumnya, Kalimantan Timur telah mengamankan sertifikasi IG untuk tiga komoditas utama:
- Lada Putih Malonan Kutai Kartanegara
- Kakao Berau
- Aren Tuana Tuha dari Kutai Kartanegara
Untuk Kopi Prangat, pemerintah daerah telah memulai tahapan sosialisasi intensif kepada petani serta pembentukan masyarakat perlindungan indikasi geografis guna memperkuat aspek kelembagaan.
Kolaborasi dan Penguatan Infrastruktur Pemasaran
Dokumen administratif yang sedang dipersiapkan meliputi:
- Surat Keputusan (SK) Bupati
- Hasil pengujian sampel di laboratorium
- Koordinasi teknis dengan Kementerian Hukum
Taufiq menambahkan, "Sinergi kuat terus dijalin antara Disbun Kaltim dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) tingkat provinsi maupun kabupaten guna mempercepat proses sertifikasi tersebut."
Sebagai pendukung aspek pemasaran, Disbun juga menyiapkan infrastruktur Toko Kebun sebagai pusat promosi dan distribusi produk perkebunan bersertifikat.
Diversifikasi Komoditas dan Pemberdayaan Petani
Kalimantan Timur memiliki tujuh komoditas perkebunan andalan, yaitu kelapa sawit, karet, kakao, kelapa dalam, lada, aren, dan kopi.
Kelapa sawit masih menjadi komoditas dominan, dengan luas mencapai 1,6 juta hektare atau 95 persen dari total lahan perkebunan.
Namun, Disbun Kaltim terus mendorong penguatan sektor non-sawit dengan memfasilitasi kebun rakyat untuk menghasilkan produk olahan UMKM bernilai tambah tinggi.
Pelatihan seperti pembuatan gula semut bagi petani aren dilakukan untuk mendorong diversifikasi produk.
Selain itu, pemerintah membuka akses pasar melalui business matching antara petani dan pembeli skala besar, termasuk buyer internasional.
Program pemberdayaan menyasar hingga ke pelosok desa, dengan pelatihan keterampilan produksi berbasis standar industri bagi petani di daerah seperti Kutai Barat.
- Penulis :
- Aditya Yohan







