Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Anjlok Lebih dari 5 Persen pada Sesi I, Tekanan MSCI dan Sentimen OJK Picu Aksi Jual

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Anjlok Lebih dari 5 Persen pada Sesi I, Tekanan MSCI dan Sentimen OJK Picu Aksi Jual
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat kembali menghentikan sementara perdagangan atau trading halt setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun delapan persen menjadi 7.654,66 pada pukul 09.30 WIB. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/wsj..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah signifikan pada perdagangan sesi I di Bursa Efek Indonesia, Senin (2/2/2026), dengan anjlok 442,44 poin atau 5,31 persen ke level 7.887,16.

Indeks saham unggulan LQ45 turut tertekan dengan penurunan 33,16 poin atau 3,98 persen sehingga berada di posisi 800,37 pada akhir sesi I.

Tekanan terhadap IHSG terutama berasal dari saham-saham yang terdampak kebijakan MSCI serta sentimen negatif terkait Percepatan Reformasi Integritas OJK yang memicu aksi jual di pasar.

Ekonom Hans Kwee mengatakan saham-saham dengan fundamental yang baik masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan pasar, "saham dengan fundamental kuat masih diakumulasi investor, sementara saham terdampak MSCI ditekan aksi jual ritel yang melakukan Market Detox," ungkapnya.

Aktivitas perdagangan pada sesi I tergolong tinggi dengan frekuensi transaksi mencapai 2.080.849 kali, volume perdagangan 35,35 miliar saham, dan nilai transaksi sebesar Rp18,94 triliun.

Pergerakan saham didominasi pelemahan dengan rincian 65 saham menguat, 715 saham melemah, dan 33 saham stagnan.

Seluruh sektor saham melemah berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC dengan sektor barang baku turun terdalam 11,12 persen, disusul sektor barang konsumen non primer turun 7,95 persen, serta sektor energi melemah 7,88 persen.

Saham yang mencatatkan penguatan terbesar pada sesi I adalah SOHO, INTD, NZIA, NICK, dan SWID.

Sementara itu, saham dengan pelemahan terbesar dialami oleh ENRG, GTSI, MDKA, ARCI, dan BUVA.

Hans Kwee mengimbau investor ritel untuk tetap tenang dan tidak panik menghadapi volatilitas pasar, "manfaatkan koreksi untuk akumulasi saham dengan fundamental yang baik," ujarnya.

Penulis :
Ahmad Yusuf