
Pantau - Institute for Development of Economics and Finance atau Indef menilai dampak banjir di sejumlah daerah berpotensi menekan pasokan pangan nasional dan memicu gejolak harga sehingga pemerintah perlu memperkuat pengelolaan distribusi pangan.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menyampaikan bahwa gangguan produksi dan distribusi akibat banjir harus diantisipasi secara terukur agar tidak berujung pada kenaikan harga pangan terutama beras dan komoditas pertanian.
Menurut Esther Sri Astuti, "Untuk menjaga stabilitas harga pangan ada dua hal utama yang harus dijaga, yaitu dari sisi pasokan dan permintaan."
Data Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi mencatat banjir berdampak pada 5.168,9 hektare areal persawahan termasuk 132,8 hektare lahan persemaian yang berpotensi mengganggu musim tanam awal tahun 2026.
Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain di Jawa Barat dan Banten sehingga tekanan terhadap pasokan pangan terjadi menjelang perayaan Imlek, Ramadhan, dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Esther Sri Astuti menilai pemerintah perlu memastikan produksi tetap terjaga melalui penguatan kapasitas petani serta dukungan infrastruktur pertanian agar gangguan akibat cuaca ekstrem tidak berlarut.
Ia mengungkapkan bahwa peningkatan produksi harus dibarengi dengan pelaksanaan sekolah lapang dan penambahan jumlah penyuluh pertanian yang saat ini masih kekurangan sekitar 4.000 orang.
Dari sisi distribusi, biaya logistik pangan di Indonesia dinilai masih cukup tinggi dan berkontribusi terhadap tekanan harga di tingkat konsumen terutama saat pasokan terganggu akibat bencana.
Esther Sri Astuti mengatakan, "Subsidi distribusi dapat menjadi instrumen untuk mengendalikan harga pangan, namun harus disertai dengan pengawasan yang ketat."
Data Panel Harga Badan Pangan Nasional menunjukkan harga beras di tingkat konsumen mulai bergerak naik meski masih relatif terkendali.
Harga beras medium penggilingan tercatat sebesar Rp12.903 per kilogram atau naik 0,28 persen, sementara beras premium penggilingan mencapai Rp14.304 per kilogram atau naik 0,08 persen.
Tekanan harga juga terjadi pada komoditas hortikultura dengan harga cabai rawit merah naik 2,66 persen menjadi Rp41.601 per kilogram.
Di sisi hulu, harga gabah kering panen di tingkat petani justru turun 0,29 persen menjadi Rp6.790 per kilogram.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya memastikan stok beras nasional per 30 Januari berada di kisaran 3,3 juta ton dan dinilai aman meski sejumlah daerah terdampak banjir.
Pemerintah terus memantau produksi dan distribusi pangan untuk menjaga stabilitas pasokan serta harga beras dan komoditas pangan lainnya di tingkat konsumen.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








