Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Ekonom Indef: Kredibilitas Kebijakan Penting untuk Ciptakan Lapangan Kerja dan Tarik Investasi

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Ekonom Indef: Kredibilitas Kebijakan Penting untuk Ciptakan Lapangan Kerja dan Tarik Investasi
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Sejumlah pekerja kantor berjalan pulang di jalan Sudirman, Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww/am..)

Pantau - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menilai bahwa kredibilitas negara dalam proses pembuatan kebijakan sangat menentukan keberhasilan penciptaan lapangan kerja dan masuknya investasi di Indonesia.

Kredibilitas Kebijakan Jadi Kunci Kepercayaan Investor

Pernyataan tersebut disampaikan Esther saat dihubungi di Jakarta pada Rabu (4/2/2026) malam.

Menurutnya, kredibilitas negara tercermin dari proses policy making yang baik dan konsisten.

"Kredibilitas negara itu dicerminkan dari policy making. Jika decision-nya tidak dijalankan dengan baik, nanti investor bisa bertanya-tanya, apakah (investasinya) aman atau tidak di Indonesia," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa kebijakan yang tidak dijalankan secara efektif akan menimbulkan keraguan bagi investor, yang kemudian berdampak pada terhambatnya penciptaan lapangan kerja.

Esther juga menyebut bahwa masuknya investasi berkaitan langsung dengan pembukaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Konsumsi Tak Merata dan Tantangan Pasar Kerja 2026

Mengutip riset dari Mandiri Institute, Esther menyampaikan bahwa konsumsi masyarakat sempat pulih di akhir 2025, namun tidak merata antar kelompok ekonomi.

Ia menjelaskan bahwa pola konsumsi saat ini menunjukkan tren berbentuk huruf K (k-shaped pattern), di mana kelompok atas terus mengalami penguatan, sementara kelompok menengah cenderung stagnan atau bahkan menurun.

Pola tersebut semakin menguat pascapandemi COVID-19 dan diperburuk oleh penurunan kualitas pekerjaan, yang membuat pendapatan kelompok menengah ikut menurun.

Hingga akhir 2025, tren arus dana masuk ke kelompok menengah belum menunjukkan perbaikan yang signifikan, dan pola ini diprediksi akan berlanjut hingga 2026.

Berdasarkan tren pasar kerja 2025, Esther memproyeksikan bahwa kondisi pasar kerja pada tahun 2026 tidak akan mengalami perubahan besar.

Hal ini dipengaruhi oleh faktor geopolitik global serta kondisi ekonomi dalam dan luar negeri yang masih penuh ketidakpastian.

Industri Padat Karya Dinilai Solusi Strategis

Untuk memperbaiki situasi tersebut, Esther mendorong pemerintah agar lebih fokus pada pengembangan sektor padat karya, seperti industri tekstil dan alas kaki.

Ia menyarankan agar pemerintah memberikan insentif langsung yang berdampak nyata pada industri dan tenaga kerja.

"Kalau misalnya (pemerintah) mau bantu industri tekstil, bisa beri insentif atau subsidi, misalnya subsidi bahan baku, harga bahan baku, subsidi transportasi dan logistik untuk mengurangi biaya logistik dan transportasi, seperti itu," ujar Esther.

Langkah tersebut dinilai dapat membantu industri tetap kompetitif, menjaga keberlangsungan produksi, dan membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat.

Penulis :
Ahmad Yusuf