Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Kemenhub Perkuat Peran Bandara Jadi Pusat Respon Bencana, Siapkan Infrastruktur dan SDM Tanggap Darurat

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kemenhub Perkuat Peran Bandara Jadi Pusat Respon Bencana, Siapkan Infrastruktur dan SDM Tanggap Darurat
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Bandara Internasional Minangkabau di Padang, Sumatera Barat. ANTARA/HO-Kemenhub..)

Pantau - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkuat peran bandar udara sebagai pusat respon bencana untuk mempercepat mobilisasi bantuan kemanusiaan dan distribusi logistik ke wilayah terdampak.

"Transportasi udara menjadi tulang punggung dalam evakuasi korban, distribusi bantuan kemanusiaan, mobilisasi personel, serta percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana," ungkap Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Achmad Setiyo Prabowo, dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VI Padang, 2026.

Ia menegaskan bahwa Kementerian Perhubungan berkomitmen memperkuat kesiapan sistem transportasi udara di wilayah rawan bencana.

Bandara Disiapkan Hadapi Kondisi Darurat

Indonesia berada di kawasan ring of fire dengan kerentanan tinggi terhadap gempa bumi, tsunami, dan bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim.

Transportasi udara menjadi jalur vital saat akses darat dan laut terputus, sehingga Kemenhub mendorong penguatan konsep resilient infrastructure di bandara.

Bandar udara tidak hanya difungsikan sebagai simpul transportasi, tetapi juga sebagai pusat logistik kemanusiaan dan respon bencana.

"Sejumlah bandara di wilayah Sumatera telah disiapkan agar tetap mampu beroperasi dalam kondisi darurat," kata Achmad.

Langkah ini dilakukan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan kerja sama dengan pengelola bandara.

Lima Rekomendasi Rakorwil untuk Perkuat Kesiapsiagaan

Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah VI, Purnama Pangalinan, menyampaikan bahwa Rakorwil menyepakati lima rekomendasi utama dalam penguatan peran bandara saat bencana.

Pertama, penguatan koordinasi, kompetensi SDM, dan protokol terpadu lintas instansi seperti BNPB/BPBD, TNI-Polri, Basarnas, BMKG, dan AirNav Indonesia.

Kedua, peningkatan kapasitas teknis personel otoritas bandara, khususnya di bidang kelaikudaraan dan pengoperasian pesawat udara, termasuk pengawasan penerbangan asing saat darurat.

Ketiga, integrasi tata kelola dan SOP operasi udara lintas instansi serta pelaksanaan latihan kesiapsiagaan secara berkala.

Keempat, kolaborasi dengan lembaga pendidikan penerbangan seperti PPI Curug dan Poltekbang Palembang untuk pelatihan dan simulasi terpadu penanggulangan bencana.

Kelima, penyusunan dan evaluasi berkala dokumen Get Airport Ready for Disaster (GARD) untuk menjamin keselamatan dan kesinambungan penerbangan darurat.

Optimalisasi kesiapsiagaan juga dilakukan melalui peningkatan infrastruktur, SDM, dan layanan operasional bandara.

"Kami berharap semua pemangku kepentingan yang hadir dalam Rakorwil ini dapat menjalankan hasil rekomendasi dalam memperkuat ketangguhan sistem transportasi udara di kawasan rawan bencana," ujarnya.

Dihadiri Lintas Sektor, Fokus pada Pemulihan Cepat dan Aman

Rapat tersebut dihadiri oleh pemerintah daerah, TNI/Polri, pengelola bandara, AirNav Indonesia, BMKG, maskapai, serta Unit Penyelenggara Bandar Udara di wilayah kerja OBU VI.

Tema Rakorwil 2026 adalah "Kesiapan Transportasi Udara di Kawasan Rawan Bencana: Selamat, Aman, dan Pulih Lebih Cepat", yang menjadi forum strategis memperkuat koordinasi menghadapi potensi bencana nasional.

Penulis :
Aditya Yohan