Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Angka Pengangguran Turun, Tapi Kualitas Pekerjaan Masih Jadi Tantangan Pasar Tenaga Kerja Indonesia

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Angka Pengangguran Turun, Tapi Kualitas Pekerjaan Masih Jadi Tantangan Pasar Tenaga Kerja Indonesia
Foto: (Sumber: Sejumlah pekerja menyelesaikan proses pengemasan produk olahan jamu di PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat (23/1/2026). ANTARA FOTO/Makna Zaezar/bar/am.)

Pantau - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan angka pengangguran di Indonesia berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025, namun kualitas pekerjaan yang tersedia dinilai masih rendah dan didominasi sektor informal.

Jumlah Pengangguran Turun, Sektor Penyerap Tenaga Kerja Bertumbuh

Berdasarkan Sakernas, jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai 155,27 juta orang, dengan 147,91 juta telah bekerja dan 7,35 juta masih menganggur.

Jumlah pengangguran turun sekitar 109 ribu orang dibanding Agustus 2025, sementara jumlah penduduk bekerja naik 1,37 juta orang.

Tiga sektor utama penyerapan tenaga kerja adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan (27,99%), perdagangan (18,67%), serta industri pengolahan (13,86%).

Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat kenaikan tenaga kerja terbesar, yaitu 381 ribu orang, mencerminkan pemulihan sektor pariwisata dan usaha kuliner.

Namun, dominasi sektor pertanian mengindikasikan transformasi ekonomi Indonesia masih bertahap, karena sektor ini dikenal berproduktivitas dan berupah rendah.

Tantangan di Kualitas Kerja, Upah, dan Sektor Informal

Sebanyak 38,81% penduduk bekerja sebagai buruh/karyawan/pegawai, dan 42,30% bekerja di sektor formal.

Meski begitu, sektor informal masih mendominasi dengan 57,70% atau 85,35 juta orang, yang rentan dari sisi perlindungan sosial, upah, dan produktivitas.

Sebanyak 67,94% bekerja penuh waktu, pekerja paruh waktu mencapai 24,24%, dan setengah pengangguran sebesar 7,81%.

Rata-rata upah nasional stagnan di Rp3,33 juta per bulan, bahkan turun tipis 0,06% dibanding Agustus 2025.

Kesenjangan upah gender masih lebar: laki-laki menerima Rp3,61 juta per bulan, sedangkan perempuan hanya Rp2,82 juta.

Sektor dengan upah tertinggi adalah informasi dan komunikasi (Rp5,17 juta), sedangkan sektor penyerap tenaga kerja terbesar seperti pertanian (Rp2,47 juta) dan perdagangan (Rp2,89 juta) memiliki upah jauh di bawah rata-rata nasional.

CORE: Perlu Fokus ke Sektor Produktif dan Padat Karya

Peneliti CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai penurunan pengangguran ini didorong oleh ekspansi lapangan kerja berproduktivitas rendah, bukan peningkatan kualitas pekerjaan.

Ia menekankan pentingnya penguatan sektor industri pengolahan dan manufaktur padat karya agar menciptakan lapangan kerja produktif.

"Pemerintah perlu memastikan investasi diarahkan ke sektor padat karya, bukan hanya padat modal," ungkapnya.

Sektor jasa pariwisata juga dinilai potensial sebagai pelengkap penciptaan lapangan kerja.

Peningkatan kualitas pasar tenaga kerja harus disertai pelatihan vokasi dan pendidikan yang sesuai kebutuhan industri.

Yusuf juga mengingatkan agar perlambatan pertumbuhan upah tidak diabaikan karena mencerminkan dominasi sektor upah rendah.

Kebijakan ke depan harus berfokus pada penciptaan pekerjaan yang produktif, formal, dan berupah layak demi kesejahteraan tenaga kerja nasional.

Penulis :
Gerry Eka