Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Pusat Riset Rumput Laut Internasional Dibangun di Teluk Ekas untuk Dorong Transformasi Ekonomi Biru

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Pusat Riset Rumput Laut Internasional Dibangun di Teluk Ekas untuk Dorong Transformasi Ekonomi Biru
Foto: (Sumber: Seorang petani memilah hasil panen rumput laut di pantai teluk Ekas, Desa Pemokong, Kecamatan Jerowaru, Selong, Lombok Timur, NTB, Sabtu (22/5). Menurut pengakuan para petani harga rumput laut kering didaerah tersebut sejak sebulan lalu mengalami penurunan dari Rp. 15 ribu/kg menjadi Rp. 9 ribu/kg. (FOTO ANTARA/Ahmad Subaidi/ed/mes/10).)

Pantau - Pemerintah membangun International Tropical Seaweed Research Center di Teluk Ekas, Lombok Timur, sebagai pusat riset bertaraf internasional guna memperkuat hilirisasi dan posisi Indonesia dalam industri rumput laut global.

Kawasan pesisir yang selama ini dikenal dengan hamparan bentangan tali rumput laut itu diarahkan menjadi simbol transformasi dari produsen bahan mentah menjadi inovator berbasis ilmu pengetahuan.

Indonesia saat ini disebut menguasai sekitar 75 persen pasar rumput laut tropis dunia dengan nilai ekonomi mencapai 12 miliar dolar AS per tahun.

Meski dominan sebagai produsen, Indonesia dinilai belum optimal dalam hilirisasi sehingga nilai tambah belum sepenuhnya dinikmati di dalam negeri.

Data produksi rumput laut Nusa Tenggara Barat pada 2023 mencapai lebih dari 693 ribu ton dengan nilai sekitar Rp1,65 triliun, sedangkan pada 2024 tercatat 704.810 ton.

NTB termasuk lima besar penghasil rumput laut nasional dengan Sumbawa, Bima, dan Lombok Timur sebagai tulang punggung produksi.

Tingginya produksi belum sepenuhnya menjamin kesejahteraan merata bagi pembudidaya karena keterbatasan bibit unggul, terutama kultur jaringan yang masih terbatas.

Perubahan iklim memicu penyakit ice-ice yang menurunkan produksi nasional hingga 10–20 persen.

Peneliti mengembangkan bibit tahan panas untuk menghadapi kenaikan suhu 2–5 derajat Celcius, namun masih dalam tahap laboratorium.

Alih fungsi lahan pesisir meningkatkan erosi dan kekeruhan air yang memengaruhi produktivitas karena rumput laut sensitif terhadap sedimen dan polutan.

Pusat riset dirancang sebagai laboratorium hidup dengan kolaborasi internasional, termasuk University of California Berkeley dan Beijing Genomics Institute.

Pengembangan tidak hanya difokuskan pada Kappaphycus sebagai bahan baku karagenan, tetapi juga Caulerpa, Ulva, dan Halymenia untuk pangan, farmasi, dan bioplastik.

Pasar rumput laut nonhidrokoloid seperti biostimulan dan pakan diproyeksikan mencapai 4,36 miliar dolar AS pada 2024 dan berpotensi naik menjadi 12,85 miliar dolar AS pada 2034.

Bank Dunia memproyeksikan pasar pakan berbasis rumput laut dapat mencapai 6,4 miliar dolar AS pada 2050.

Hilirisasi dinilai membuka peluang pengembangan suplemen nutrisi, kosmetik, pupuk hayati, hingga kemasan ramah lingkungan.

Kolaborasi dengan Universitas Mataram dan BRIN dipandang penting untuk memastikan hasil riset terhubung dengan kebutuhan pembudidaya dan pelaku usaha mikro kecil menengah.

Penguatan tata kelola pesisir, pengendalian alih fungsi lahan, rehabilitasi kawasan, serta pengawasan kualitas air menjadi prasyarat keberlanjutan pusat riset.

Pembangunan pusat riset di Teluk Ekas disebut menjadi momentum transformasi ekonomi biru berbasis inovasi dengan integrasi riset, kebijakan publik, dan keadilan ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Penulis :
Gerry Eka