
Pantau - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menyatakan investor global cenderung beralih ke aset aman di tengah ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) yang memicu volatilitas pasar keuangan.
Menurutnya, investor membaca kebijakan tarif AS bukan sekadar proteksionisme, melainkan sebagai sumber volatilitas kebijakan atau policy uncertainty yang sulit diprediksi.
Perubahan aturan perdagangan yang cepat membuat proyeksi laba perusahaan, harga komoditas, dan arus logistik global menjadi tidak pasti.
Rizal mengatakan “Karena itu investor global cenderung memindahkan dana sementara ke aset aman seperti obligasi pemerintah AS dan dolar AS, sementara aset emerging market dianggap lebih berisiko meskipun fundamental domestiknya tidak berubah,”.
Ia menjelaskan gejolak tarif AS bekerja terutama melalui kanal sentimen risiko global, bukan secara langsung melalui perdagangan barang.
Rizal menyampaikan “Perubahan kebijakan yang cepat meningkatkan ketidakpastian perdagangan dunia sehingga investor global cenderung mengurangi eksposur di aset negara berkembang (risk-off),”.
Dampak bagi Indonesia biasanya berupa arus keluar portofolio jangka pendek dari pasar obligasi dan saham.
Kondisi tersebut turut memicu kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) serta tekanan pada likuiditas pasar domestik.
Rizal mengatakan “Jadi pengaruh awalnya lebih terasa di pasar keuangan dibanding sektor riil,”.
Tekanan paling cepat biasanya terjadi pada nilai tukar rupiah karena sensitif terhadap pergerakan dolar AS dan arus modal global.
Penguatan dolar AS dan capital outflow berpotensi membuat rupiah melemah sementara waktu.
IHSG juga cenderung bergerak volatil dengan sektor komoditas relatif lebih bertahan dibanding sektor manufaktur dan perbankan.
Rizal menyampaikan “Namun sifatnya masih sentiment driven, sehingga arah pasar akan sangat tergantung stabilitas global beberapa hari ke depan, bukan semata faktor domestik,”.
Pada pekan depan, investor akan mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed serta data inflasi AS sebagai indikator utama kondisi ekonomi global.
Investor juga menunggu respons kebijakan Bank Indonesia terkait stabilitas rupiah dan pengelolaan likuiditas di pasar keuangan.
Selain itu, kepastian implementasi tarif AS terhadap negara mitra dagang termasuk Indonesia menjadi perhatian pelaku pasar.
Rizal mengatakan “Selain itu, data domestik seperti inflasi, cadangan devisa, dan perkembangan arus modal asing juga akan menjadi indikator apakah tekanan eksternal hanya sementara atau mulai memengaruhi stabilitas makro nasional,”.
- Penulis :
- Gerry Eka







