
Pantau - Kegiatan belajar mengajar di Universitas Teknologi Sharif, Teheran, tetap berlangsung meski kampus mengalami kerusakan parah akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada awal April 2026.
Aktivitas Akademik di Tengah Kehancuran
Serangan udara yang menghantam kampus menyebabkan kerusakan serius pada gedung, termasuk Pusat Teknologi Informasi dan fasilitas di sekitarnya.
Namun, di tengah puing-puing bangunan dan suasana yang menyerupai medan perang, para pengajar tetap melanjutkan aktivitas akademik.
“Kami, pihak universitas, bergerak bersama-sama menuju kemenangan besar ini. Kami akan membangun kembali negara ini,” ujar Kepala Pusat Teknologi Informasi Alireza Zarei.
Ia bahkan tetap mengajar kelas algoritma secara daring dari ruang kelas yang telah rusak untuk memastikan mahasiswa tidak tertinggal.
Dampak Serangan dan Respons Akademisi
Presiden Universitas Sharif Masoud Tajrishi menyatakan bahwa serangan tersebut tidak akan melemahkan semangat akademisi, melainkan menjadi bukti tekanan terhadap kemajuan teknologi Iran.
“Saya meminta kepada kalian dan berharap kalian tidak melihat kehancuran ini sebagai kemunduran atau kelemahan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa banyak warga Iran di luar negeri menawarkan bantuan untuk pemulihan kampus.
Data pemerintah Iran menyebut lebih dari 30 universitas menjadi sasaran serangan sejak konflik memanas, dengan korban lima profesor dan lebih dari 60 mahasiswa.
“Alasan utama musuh menargetkan infrastruktur sensitif ini adalah karena mereka tidak ingin kami mendapatkan akses ke teknologi ini,” tegasnya.
Meski situasi masih mencekam dengan suara ledakan yang sesekali terdengar, kegiatan belajar tetap berjalan sebagai bentuk perlawanan melalui ilmu pengetahuan.
- Penulis :
- Aditya Yohan








