HOME  ⁄  Nasional

BKSAP DPR RI Tekankan Penguatan Diplomasi Parlemen Hadapi Ketegangan Geopolitik Global

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

BKSAP DPR RI Tekankan Penguatan Diplomasi Parlemen Hadapi Ketegangan Geopolitik Global
Foto: (Sumber : Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Syahrul Aidi Maazat dalam Rapat Koordinasi dan Diskusi BKSAP DPR RI bertema “Prospek Diplomasi Parlemen di Tengah Konflik Global” yang digelar di Tangerang Selatan, Banten, Rabu (8/4/2026). Foto: Hira/Mahendra.)

Pantau - Ketua BKSAP DPR RI Syahrul Aidi Maazat menegaskan pentingnya penguatan diplomasi parlemen sebagai respons atas dinamika konflik global dalam rapat koordinasi di Tangerang Selatan, Banten, Rabu (8/4/2026).

Tantangan Geopolitik dan Peran Diplomasi Parlemen

Syahrul Aidi Maazat menyampaikan bahwa dunia saat ini menghadapi perubahan cepat dengan meningkatnya ketegangan antarnegara, rivalitas kekuatan besar, serta disrupsi teknologi yang memengaruhi hubungan internasional.

“Hari ini, dunia berada di persimpangan jalan yang penuh tantangan. Kita menyaksikan perubahan yang sangat dinamis di lanskap global: ketegangan di berbagai kawasan, rivalitas antar kekuatan besar, serta disrupsi teknologi yang membuka era baru dimana negara-negara tak hanya berkompetisi, tetapi juga bersinergi,” ungkapnya.

Ia menilai pergeseran tatanan global yang sebelumnya berbasis hukum internasional dan multilateralisme menuntut diplomasi parlemen menjadi lebih adaptif dan strategis.

“Dengan kata lain, BKSAP adalah pintu gerbang diplomasi parlemen Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, diplomasi parlemen memiliki keunggulan melalui jalur komunikasi informal dan hubungan personal antaranggota parlemen lintas negara.

“Jalur parlemen sering membuka kanal komunikasi yang tidak dapat dijangkau oleh diplomasi eksekutif, melalui hubungan personal antaranggota parlemen, dialog informal, serta jejaring politik lintas negara. Di sinilah diplomasi parlemen menjadi jalur paralel yang strategis dan adaptif,” jelasnya.

Isu Strategis dan Penguatan Peran Global

Syahrul juga menyoroti tiga isu utama yang memengaruhi forum antarparlemen, yakni polarisasi geopolitik dan geoekonomi, pergeseran ke keamanan digital, serta meningkatnya peran parlemen dalam tata kelola ekonomi global.

“Ruang digital telah menjadi bagian integral dari keamanan nasional, parlemen tidak boleh bersikap pasif,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa BKSAP aktif berpartisipasi dalam berbagai forum internasional seperti IPU, AIPA, dan PUIC untuk memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia.

“Kehadiran kita di forum global bukan sekadar representasi formal, melainkan kesempatan emas untuk ikut membentuk norma internasional yang selaras dengan kepentingan nasional Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya mengaktifkan kembali diplomasi bilateral melalui Grup Kerja Sama Bilateral yang menjangkau 102 parlemen negara sahabat.

“BKSAP berharap, di tengah polarisasi global dan melemahnya multilateralisme, GKSB segera dibuka kembali guna memperkuat posisi Indonesia melalui jalur bilateral serta memajukan kepentingan nasional,” katanya.

Sebagai penutup, Syahrul menegaskan bahwa diplomasi parlemen kini menjadi instrumen krusial dalam menjaga kepentingan nasional di tengah ketidakpastian global.

“Di tengah dinamika global yang sarat ketidakpastian, diplomasi parlemen bukan sekadar relevan, ia justru semakin krusial,” pungkasnya.

Penulis :
Ahmad Yusuf