Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Bendungan Batujai Disiapkan Jadi Hub Seaplane Pertama di NTB, Konektivitas Dipacu Lingkungan Disorot

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Bendungan Batujai Disiapkan Jadi Hub Seaplane Pertama di NTB, Konektivitas Dipacu Lingkungan Disorot
Foto: (Sumber: Arsip foto - Foto udara kawasan bendungan Batujai yang dipenuhi tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) di Praya, Lombok Tengah, NTB, Rabu (13/4/2022). ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc/pri.)

Pantau - Bendungan Batujai di Praya, Lombok Tengah, yang selama ini dikenal sebagai ruang terbuka publik dan kawasan hutan kota, kini disiapkan menjadi hub seaplane pertama di Nusa Tenggara Barat yang ditargetkan beroperasi pada 2026.

Kawasan yang sejak 2010 ditetapkan sebagai hutan kota dengan fungsi sabuk hijau itu akan difungsikan sebagai waterbase atau bandara di atas air untuk mendukung rute pesawat amfibi.

Proyek ini diarahkan untuk memperkuat konektivitas antarpulau serta mendukung agenda internasional seperti MotoGP di Mandalika.

Pemerintah daerah menjalin kerja sama dengan investor untuk pembangunan hanggar dan fasilitas pendukung di lahan sekitar 50 are pada tahap awal.

Sebanyak 14 jenis izin disebut telah dipenuhi, sementara Kementerian Perhubungan memberi sinyal kemudahan regulasi pengoperasian pesawat amfibi.

Pada tahap awal, dua unit pesawat disiapkan dengan landasan air sepanjang sekitar 400 meter.

Kedekatan Batujai dengan Bandara Internasional Lombok dinilai memberi keunggulan intermoda karena wisatawan dapat berpindah moda secara cepat menuju destinasi seperti Gili, Sumbawa, dan Teluk Saleh tanpa perjalanan darat panjang.

Model transportasi serupa telah diterapkan di Maladewa dan Kanada untuk mendukung destinasi premium.

Potensi Ekonomi dan Tantangan Lingkungan

Pengoperasian seaplane diproyeksikan membuka efek berganda ekonomi bagi pelaku UMKM, jasa transportasi, katering, hingga perawatan pesawat.

Pemerintah daerah menyatakan analisis dampak lingkungan telah dilakukan dan dinyatakan aman.

Namun Bendungan Batujai memiliki fungsi ekologis penting sebagai kawasan sabuk hijau seluas 83 hektare dan ruang resapan air bagi wilayah Praya.

Transformasi menjadi waterbase berpotensi mengubah tata ruang dan pola aktivitas di kawasan tersebut.

Potensi kebisingan, pencemaran bahan bakar, serta perubahan aktivitas perairan menjadi aspek yang perlu dikelola secara ketat.

Perlu Pengamanan dan Kajian Pasar

Kawasan Batujai juga memiliki catatan persoalan keamanan wisata pada masa lalu sehingga sistem pengamanan terpadu dinilai menjadi kebutuhan penting.

Seaplane menyasar segmen wisatawan tertentu dengan tarif relatif tinggi sehingga diperlukan kajian realistis terkait permintaan pasar dan tingkat okupansi.

Pemerintah daerah didorong memastikan integrasi paket wisata, promosi terpadu, serta koneksi rute berkelanjutan agar proyek tidak stagnan.

Pendekatan bertahap seperti uji coba rute terbatas dan evaluasi dampak lingkungan secara berkala disarankan sebelum operasional penuh.

Pembangunan hub seaplane di Batujai dinilai bukan sekadar proyek transportasi, tetapi menyangkut arah pembangunan NTB ke depan.

Tata kelola lingkungan melalui audit independen, penetapan zona aman aktivitas warga, serta standar operasional penerbangan ketat disebut perlu menjadi prioritas.

Skema kemitraan dengan UMKM, pelatihan tenaga kerja lokal, dan peluang usaha turunan diharapkan dirancang sejak awal agar masyarakat sekitar memperoleh manfaat langsung.

Batujai diharapkan menjadi simpul konektivitas Indonesia timur yang terintegrasi secara strategis dan berkelanjutan tanpa mengabaikan keseimbangan lingkungan dan pemerataan ekonomi.

Penulis :
Gerry Eka