
Pantau - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta seluruh lembaga jasa keuangan untuk terus memonitor dinamika global, termasuk potensi dampak rambatan akibat meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berpotensi memengaruhi stabilitas sektor keuangan global dan domestik.
Permintaan tersebut disampaikan di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang dinilai dapat meningkatkan volatilitas pasar keuangan pada awal 2026.
Pjs Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari menyatakan, "Sehubungan dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, lembaga jasa keuangan kami minta untuk terus mencermati situasi yang terjadi serta melakukan antisipasi dampaknya terhadap kondisi debitur dan juga di pasar keuangan itu sendiri".
Tiga Jalur Risiko yang Dicermati OJK
Friderica menjelaskan peningkatan tensi geopolitik dan fragmentasi geoekonomi, termasuk dinamika kebijakan perdagangan di Amerika Serikat, menjadi downside risk yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
OJK mencatat terdapat tiga jalur utama yang terus dicermati terkait dampak konflik tersebut.
Jalur pertama adalah antisipasi dampak rambatan akibat kenaikan harga minyak dunia, termasuk risiko serius apabila terjadi penutupan Selat Hormuz secara berkepanjangan.
Friderica menyatakan, "Karena ini kan 30 persen supply minyak dunia itu lewat situ, kemudian LNG (liquefied natural gas) juga cukup signifikan. Sehingga kita antisipasi dampak rambatannya di kita terkait dengan harga minyak ini".
Jalur kedua adalah risiko peningkatan inflasi global yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara serta berpotensi memicu pengetatan likuiditas di pasar keuangan global.
Friderica menjelaskan, "Sehingga kita juga melihat bagaimana potensi perebutan persaingan untuk dana-dana ini, dan makanya kita harus memastikan persiapan kita di dalam negeri untuk bisa menghadapi eksposur global yang tinggi ini".
Jalur ketiga adalah peningkatan ketidakpastian global yang mendorong fenomena flight to quality ke instrumen safe haven sehingga pasar negara berkembang seperti Indonesia dituntut menunjukkan integritas, likuiditas yang kuat, serta data keuangan yang kredibel agar tetap kompetitif.
Perkuat Manajemen Risiko dan Sinergi KSSK
Selain monitoring, OJK meminta lembaga jasa keuangan memperkuat manajemen risiko dan melakukan stress testing dengan berbagai skenario untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Friderica menyampaikan, "OJK dan SRO tentu punya serangkaian instrumen kebijakan apabila diperlukan diaktivasi dalam hal adanya fluktuasi pasar yang tidak kita harapkan".
OJK juga memperkuat sinergi dengan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan dalam forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Sebelumnya pada Sabtu 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran termasuk Teheran yang dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pada Minggu 1 Maret 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan tersebut dan televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei.
Merespons situasi itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan perang antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak di dalam negeri meski tekanan harga dinilai masih dapat tertahan karena peningkatan suplai minyak dari Amerika Serikat serta tambahan kapasitas produksi dari OPEC.
- Penulis :
- Leon Weldrick







