Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Berpotensi Melemah, Sentimen Geopolitik dan Tarif Perdagangan Jadi Perhatian Pasar

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Berpotensi Melemah, Sentimen Geopolitik dan Tarif Perdagangan Jadi Perhatian Pasar
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Seorang pria mengamati layar digital pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (12/12/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau pada level 8.660 atau naik 0,46 persen. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar.)

Pantau - Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melemah pada perdagangan Rabu seiring sentimen global yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Menurut Nico, pelaku pasar saat ini mencermati perkembangan konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang memicu kekhawatiran di pasar keuangan global.

"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.860- 8.150," ujar Nico.

Perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah menunjukkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana memberikan jaminan asuransi bagi kapal tanker minyak yang beroperasi di kawasan tersebut.

Pemerintah Amerika Serikat juga berencana mengawal kapal tanker serta kapal lain yang melintasi Selat Hormuz dengan angkatan laut.

Langkah tersebut bertujuan mencegah krisis energi global serta memastikan distribusi energi dunia tidak terganggu.

Upaya tersebut diharapkan dapat meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan inflasi global akibat kenaikan harga energi.

Namun konflik yang masih berlangsung membuat pelaku pasar tetap memiliki pandangan negatif terhadap kondisi tersebut.

"Perang masih masih berlanjut, dan menurut kami pelaku pasar dan investor masih memiliki perspektif negatif terhadap hal tersebut, sehingga masih mendorong pasar saham dan obligasi global mengalami penurunan," ujar Nico.

Isu Tarif Perdagangan dan Kebijakan Nikel Jadi Sorotan

Selain konflik geopolitik, isu tarif perdagangan Amerika Serikat juga menjadi perhatian investor global.

Trump menyatakan pemerintah Amerika Serikat sedang merancang tarif baru yang akan menggantikan tarif bea masuk yang sebelumnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat.

Tarif baru tersebut disebut akan sedikit lebih tinggi dibandingkan tarif yang disepakati dalam perjanjian bilateral dengan mitra dagang selama setahun terakhir.

Dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia menerbitkan informasi kepemilikan saham perusahaan tercatat di atas 1 persen.

Informasi tersebut akan disediakan oleh KSEI dan dipublikasikan setiap bulan melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia.

Publikasi tersebut dapat diakses melalui laman resmi Bursa Efek Indonesia pada bagian pengumuman.

BEI berharap informasi tersebut dapat menjadi referensi yang lebih akurat bagi investor sekaligus meningkatkan kepercayaan, integritas, dan kredibilitas pasar modal Indonesia.

Sementara itu Asosiasi Pertambangan Nikel Indonesia mengungkapkan bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan menerbitkan peraturan menteri baru terkait Harga Mineral Acuan nikel pada Maret 2026.

Peraturan tersebut akan mengubah patokan harga bijih nikel sebagai respons atas usulan APNI agar formula Harga Patokan Mineral disesuaikan.

APNI mengusulkan agar perhitungan harga juga mempertimbangkan kandungan besi dan kobalt.

Menurut asosiasi tersebut formula lama menyebabkan kerugian hingga 6,3 miliar dolar Amerika Serikat dalam dua tahun terakhir.

Bagi negara skema berbasis formula baru dinilai lebih optimal dalam memaksimalkan penerimaan royalti terutama jika mineral ikutan seperti kobalt dikenakan pungutan tersendiri.

Namun kenaikan harga bijih nikel juga berpotensi meningkatkan biaya bahan baku bagi industri smelter domestik di tengah kelebihan pasokan global.

Nico menilai kebijakan tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi emiten tambang nikel di sektor hulu.

Namun dampaknya diperkirakan lebih terbatas atau netral bagi pelaku industri lainnya.

Bursa Global Kompak Melemah

  • Pada perdagangan Selasa (3/3) bursa saham Eropa secara umum mengalami pelemahan.
  • Indeks Euro Stoxx 50 melemah 3,64 persen.
  • Indeks FTSE 100 Inggris turun 2,75 persen.
  • Indeks DAX Jerman melemah 3,44 persen.
  • Indeks CAC Prancis turun 3,46 persen.
  • Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street juga mencatat pelemahan pada hari yang sama.
  • Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,83 persen ke level 48.501,27.
  • Indeks S&P 500 melemah 0,95 persen ke level 6.816,63.
  • Indeks Nasdaq Composite turun 1,09 persen dan ditutup pada level 24.720,08.
Penulis :
Ahmad Yusuf