
Pantau - Pemerintah China menyerukan jaminan keamanan energi global setelah Selat Hormuz ditutup oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menegaskan stabilitas pasokan energi menjadi kepentingan bersama bagi seluruh negara.
"Keamanan energi sangat penting bagi perekonomian dunia. Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan tidak terhambat," kata Mao Ning di Beijing.
Penutupan Selat Hormuz diumumkan setelah Garda Revolusi Iran mengirim pesan kepada kapal-kapal yang hendak melintasi jalur tersebut.
Pesan tersebut menyatakan tidak ada kapal yang akan diizinkan melintas di selat strategis tersebut.
Hingga Senin 2 Maret tercatat sekitar 706 kapal tanker non-Iran menunggu di kedua sisi Selat Hormuz.
Dampak terhadap Pasokan Energi Dunia
Penutupan jalur pelayaran tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi sejumlah negara pengimpor minyak, terutama Jepang yang mengimpor sekitar 95 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah.
Sebagian besar pasokan minyak tersebut diketahui melewati jalur Selat Hormuz.
Selat Hormuz menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global atau sekitar 20 juta barel per hari melewati jalur tersebut.
Selat tersebut juga menjadi jalur utama ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.
Data pelayaran menunjukkan volume transit pada 1 Maret turun hingga 86 persen dibandingkan rata-rata tahun 2026.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris menyatakan tingkat keamanan maritim di Selat Hormuz telah dinaikkan ke level kritis yang merupakan kategori risiko tertinggi.
Peningkatan status keamanan terjadi setelah adanya beberapa serangan terhadap kapal komersial di Teluk Oman dan perairan pesisir Uni Emirat Arab.
Seruan China untuk Penghentian Operasi Militer
China mendesak semua pihak untuk menghentikan operasi militer guna mencegah eskalasi lebih lanjut di kawasan Timur Tengah.
"China mendesak semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer, menghindari eskalasi lebih lanjut, menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap aman, dan mencegah dampak lebih lanjut pada perekonomian global," tambah Mao Ning.
China juga menegaskan penolakannya terhadap pelanggaran kedaulatan negara melalui penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional.
"Keamanan energi sangat penting bagi perekonomian dunia. Memastikan pasokan energi yang stabil dan tidak terhambat adalah tanggung jawab semua pihak. China akan melakukan apa yang diperlukan untuk menjaga keamanan energinya," ungkap Mao Ning.
China menyatakan dukungannya terhadap penyelesaian damai terkait isu nuklir Iran melalui dialog dan negosiasi.
China juga menegaskan menghormati hak Iran untuk menggunakan energi nuklir secara damai.
"Kami mencatat bahwa Iran telah berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak berniat untuk mengembangkan senjata nuklir dan baru-baru ini terlibat dalam negosiasi serius dengan AS. Masalah ini pada akhirnya harus kembali ke jalur solusi politik dan diplomatik," ucap Mao Ning.
China menilai serangan Amerika Serikat terhadap Iran terjadi saat proses negosiasi sedang berlangsung.
"Sekali lagi, AS menyerang Iran dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung. Serangan tersebut melanggar hukum internasional dan norma-norma dasar hubungan internasional dan telah meningkatkan ketegangan di Timur Tengah," tegas Mao Ning.
Eskalasi Ketegangan di Kawasan Teluk
Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan bahwa 11 kapal Iran di Teluk Oman telah dihancurkan karena dianggap mengganggu dan menyerang pelayaran internasional selama beberapa dekade.
Komando tersebut juga menegaskan akan terus mempertahankan kebebasan navigasi maritim di kawasan tersebut.
Namun hingga kini Iran belum mengonfirmasi pernyataan tersebut.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, aset militer Amerika Serikat, serta beberapa negara di kawasan Teluk.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan enam personel militer Amerika Serikat tewas.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








