Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat 86 Poin ke Rp16.863 per Dolar AS di Tengah Sinyal Redanya Konflik AS-Iran

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Rupiah Menguat 86 Poin ke Rp16.863 per Dolar AS di Tengah Sinyal Redanya Konflik AS-Iran
Foto: Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten (sumber: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Pantau - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa, menguat sebesar 86 poin atau 0,51 persen menjadi Rp16.863 per dolar Amerika Serikat dari sebelumnya Rp16.949 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi seiring meredanya kekhawatiran pasar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan konflik dengan Iran yang masih berlangsung diperkirakan akan segera berakhir.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyampaikan bahwa pernyataan tersebut membantu menenangkan sentimen pasar.

Ia mengatakan, “Pernyataan tersebut membantu meredakan sebagian kekhawatiran investor terhadap potensi konflik berkepanjangan yang sebelumnya dikhawatirkan dapat mengganggu pasokan energi global serta menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.”

Pernyataan itu disampaikan kepada ANTARA di Jakarta pada Selasa.

Mengutip laporan Kyodo, Trump mengatakan perang dengan Iran yang hingga kini masih berlangsung diperkirakan akan “segera berakhir”.

Trump membantah bahwa konflik tersebut akan berakhir pada pekan ini.

Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Pernyataan Trump muncul setelah Iran memilih Ayatullah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran.

Pemilihan tersebut terjadi setelah Ayatullah Ali Khamenei gugur dalam gelombang pertama serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Mojtaba Khamenei dikenal memiliki kedekatan dengan Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC).

Kenaikan Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin tertinggi Iran memicu kekhawatiran di sejumlah negara.

Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan kemungkinan konflik yang telah memasuki pekan kedua dapat semakin mengguncang kawasan Timur Tengah.

Situasi itu dinilai berpotensi berdampak langsung terhadap stabilitas perekonomian global.

Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah mencapai keberhasilan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun ia juga mengaku “kecewa” dengan terpilihnya pemimpin tertinggi baru Iran.

Trump mengatakan, “Kami pikir ini hanya akan menyebabkan masalah yang sama untuk negara ini.”

Faktor Global dan Tekanan Energi

Muhammad Amru Syifa juga menyampaikan bahwa koreksi pada indeks dolar Amerika Serikat memberikan ruang bagi sejumlah mata uang untuk bergerak lebih stabil.

Ia mengatakan, “Koreksi pada indeks dolar AS memberikan ruang bagi sejumlah mata uang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil dan cenderung menguat.”

Pasar saat ini juga mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.

Perhatian tersebut meningkat setelah sejumlah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kondisi yang masih relatif kuat.

Jika inflasi dan pasar tenaga kerja Amerika Serikat tetap solid maka peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama akan meningkat.

Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dolar Amerika Serikat.

Pasar juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve.

Dari sisi domestik, kenaikan harga minyak dunia akibat potensi gangguan pasokan energi turut menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Muhammad Amru Syifa menyampaikan bahwa lonjakan harga energi menjadi perhatian bagi perekonomian domestik.

Ia mengatakan, “Lonjakan harga energi menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah dan memicu tekanan inflasi domestik.”

Ia menambahkan bahwa jika konflik geopolitik berlangsung lama maka volatilitas pasar keuangan global berpotensi meningkat.

Peningkatan volatilitas tersebut dapat memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang.

Kondisi itu pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat pada hari yang sama ke level Rp16.879 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.974 per dolar AS.

Penulis :
Arian Mesa