Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

Mendagri Tito Karnavian Minta Pemda Percepat Belanja APBD untuk Dorong Perputaran Ekonomi Nasional

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Mendagri Tito Karnavian Minta Pemda Percepat Belanja APBD untuk Dorong Perputaran Ekonomi Nasional
Foto: Menteri Dalam Negeri selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Wilayah Sumatera Muhammad Tito Karnavian memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Rabu 11/2/2026 (sumber: ANTARA/Fianda Sjofjan Rassat)

Pantau - Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian meminta seluruh pemerintah daerah mempercepat realisasi belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APBD guna menstimulasi perekonomian nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Tito Karnavian saat memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta.

Ia menegaskan bahwa belanja pemerintah merupakan instrumen utama dalam menggerakkan roda ekonomi nasional serta mendorong aktivitas sektor swasta.

"Karena belanja pemerintah adalah belanja utama selain untuk terjadinya peredaran uang, menstimulasi swasta," ungkapnya.

Ia menjelaskan pengelolaan keuangan daerah yang ideal ditandai dengan tingginya pendapatan daerah yang diikuti dengan realisasi belanja yang juga tinggi.

Kondisi tersebut memungkinkan uang beredar di masyarakat sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Apresiasi Daerah dengan Pengelolaan Keuangan Ideal

Tito Karnavian memberikan apresiasi kepada sejumlah daerah yang dinilai berhasil mengelola keuangan daerah secara ideal.

Salah satu contoh daerah yang dinilai berhasil adalah Provinsi Jawa Barat.

Provinsi Jawa Barat mencatatkan realisasi pendapatan sebesar 16 persen dan realisasi belanja sebesar 15 persen.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan adanya keseimbangan antara penerimaan dan penggunaan anggaran untuk pembangunan.

Soroti Rendahnya Realisasi Belanja di Sejumlah Daerah

Mendagri juga menyoroti masih adanya sejumlah daerah yang memiliki pendapatan cukup tinggi tetapi realisasi belanjanya masih rendah.

Kondisi tersebut menyebabkan dana APBD yang seharusnya digunakan untuk pembangunan justru lebih banyak tersimpan di bank.

"Nah, kalau pendapatannya tinggi, belanjanya rendah, ya alhamdulillah punya simpanan, tapi belanja rendah. Perputaran uangnya kurang bergerak," ungkapnya.

Ia menilai rendahnya realisasi belanja dapat menghambat perputaran uang di masyarakat.

Secara khusus Mendagri juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

Provinsi Kepulauan Riau berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi secara year on year sebesar 7,89 persen.

Angka tersebut melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,39 persen pada triwulan IV tahun 2025.

Selain itu, tingkat inflasi di Provinsi Kepulauan Riau pada Februari 2026 secara year on year juga tercatat terkendali di angka 3,54 persen.

"Ini cukup baik, terkendali. Dan inflasi bulan ke bulannya Provinsi Kepri juga cukup baik," ungkapnya.

Penulis :
Leon Weldrick