
Pantau - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan sejumlah risiko yang dapat dihadapi perekonomian Indonesia akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran di kawasan Timur Tengah.
Potensi Gangguan Energi Global
Salah satu risiko utama yang disoroti adalah potensi penutupan Selat Hormuz yang dapat mengganggu suplai energi global.
Gangguan pada jalur energi tersebut berpotensi memicu lonjakan harga komoditas, khususnya minyak dunia.
Purbaya menjelaskan "Ketidakpastian ini tercermin dari meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global, ditandai volatilisasi tinggi pada indeks pasar baik VIX maupun MOVE, pergeseran investor ke aset safe haven, penguatan indeks dolar AS, DXY, serta kenaikan yield US Treasury yang 10 Tahun".
Dari sisi perdagangan, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan beban impor migas Indonesia.
Peningkatan impor migas tersebut berpotensi menekan surplus neraca perdagangan Indonesia.
Kondisi itu juga dapat mempengaruhi neraca pembayaran nasional.
Dari sisi pasar keuangan, meningkatnya ketidakpastian global dapat memicu arus modal keluar dari Indonesia.
Arus modal keluar tersebut berpotensi menekan pasar saham domestik.
Selain itu juga dapat memberi tekanan pada pasar obligasi.
Nilai tukar rupiah juga berpotensi mengalami tekanan akibat kondisi tersebut.
Ketidakpastian global juga dapat meningkatkan biaya pendanaan atau cost of fund.
Dampak Fiskal dan Strategi Pemerintah
Di sisi fiskal, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tetap akan berperan sebagai shock absorber untuk meredam dampak gejolak ekonomi.
Namun APBN juga berpotensi menghadapi kenaikan subsidi energi.
Selain itu terdapat potensi peningkatan beban bunga utang pemerintah.
Di sisi lain pemerintah juga berpeluang memperoleh tambahan penerimaan negara dari kenaikan harga komoditas.
Komoditas yang berpotensi meningkatkan penerimaan negara antara lain batu bara, nikel, dan minyak kelapa sawit atau CPO.
Pemerintah akan terus memantau perkembangan konflik secara ketat.
Pemerintah memastikan instrumen APBN dapat bekerja secara responsif dalam menghadapi dinamika global.
Purbaya menegaskan "Pemerintah juga terus memantau perkembangan ini secara ketat, memastikan instrumen APBN bekerja secara responsif dan menjaga fiskal tetap prudent agar respons kebijakan tetap terukur guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat".
Harga Minyak Dunia Berfluktuasi
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan volatilitas harga minyak dunia dalam jangka pendek.
Ia menyebut harga minyak Brent sempat mencapai 103,74 dolar AS per barel pada 9 Maret.
Dalam beberapa hari terakhir harga minyak Brent kembali turun ke kisaran 87 hingga 88 dolar AS per barel.
Suahasil menjelaskan "Harga Indonesia Crude Price (ICP) kita enggak jauh dari Brent, hanya 4 dolar di bawah Brent biasanya. Jadi efeknya kira-kira hanya sekitar 84 atau 85 dolar AS per barel".
Ia juga mengingatkan bahwa harga minyak dapat kembali naik ke kisaran 90 hingga 100 dolar AS per barel.
Kenaikan tersebut dapat terjadi apabila gangguan distribusi energi di Selat Hormuz terus berlanjut.
Sebaliknya harga minyak dapat turun kembali ke sekitar 70 dolar AS per barel jika ketegangan geopolitik mereda.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah memperkuat strategi ketahanan energi nasional.
Langkah yang dilakukan antara lain menjaga kecukupan cadangan energi nasional.
Pemerintah juga memastikan kelancaran pasokan energi domestik agar tetap stabil.
- Penulis :
- Arian Mesa








