
Pantau - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai pemerintah perlu memitigasi berbagai tantangan ekonomi setelah momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2026 berakhir.
Efek Musiman Lebaran Diprediksi Mereda
Yusuf menjelaskan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 terdorong oleh konsumsi masyarakat selama Ramadhan dan Lebaran.
Namun, ia mengingatkan dorongan tersebut bersifat sementara dan akan mengalami normalisasi setelah periode tersebut.
“Sekarang justru tantangannya makin kompleks, karena kita tidak hanya bicara soal efek musiman yang mereda, tetapi juga tekanan eksternal dan domestik yang bisa menahan konsumsi ke depan,” ungkapnya.
Ia menilai kenaikan harga energi seperti BBM dan listrik dapat meningkatkan biaya hidup serta menekan daya beli masyarakat.
Risiko Harga Pangan dan Ketimpangan Konsumsi
Selain energi, risiko iklim ekstrem juga berpotensi mengganggu produksi pangan dan memicu kenaikan harga bahan pokok.
Yusuf menekankan inflasi pangan akan berdampak langsung pada daya beli, terutama kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
“Tanpa dukungan daya beli yang kuat dan stabilitas harga, maka konsumsi domestik akan sulit menjadi motor pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan tekanan ekonomi pasca Lebaran berpotensi membuat pertumbuhan tetap terjadi, namun dengan kualitas yang lebih lemah dan tidak merata.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








