Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Melemah Ikuti Bursa Asia di Tengah Ketidakpastian Konflik Amerika Serikat dan Iran

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Melemah Ikuti Bursa Asia di Tengah Ketidakpastian Konflik Amerika Serikat dan Iran
Foto: (Sumber : Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/YU.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Senin pagi dibuka melemah mengikuti tren penurunan bursa saham di kawasan Asia seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko akibat ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

IHSG tercatat turun 76,53 poin atau 1,08 persen ke posisi 7.020,53.

Sementara itu indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga melemah 11,00 poin atau 1,53 persen ke level 707,96.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan investor masih cenderung bersikap menunggu perkembangan situasi global sebelum mengambil keputusan investasi.

"Kiwoom Research ingatkan para investor untuk masih lebih banyak menahan diri, wait and see menunggu perkembangan perang AS-Iran, serta data payroll AS dan data Inflasi Indonesia, serta keputusan mitigasi risiko krisis BBM yang sedianya dirilis pemerintah pekan ini," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Ketidakpastian Konflik Global Tekan Sentimen Pasar

Liza menjelaskan sentimen pasar global saat ini masih dipengaruhi oleh ketidakpastian tinggi terkait perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Ia menyebutkan pergerakan pasar sangat dipengaruhi oleh berbagai perkembangan terbaru atau headline-driven yang muncul setiap saat.

Penundaan serangan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai belum mampu memberikan sentimen positif karena risiko eskalasi konflik masih tetap tinggi.

Potensi tambahan pengerahan hingga 10.000 pasukan Amerika Serikat juga dinilai menambah ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Konflik tersebut telah memasuki pekan kelima dengan kondisi Selat Hormuz yang masih tertutup bagi sebagian besar kapal tanker minyak.

Serangan terhadap infrastruktur energi juga masih terjadi sehingga memperburuk kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Lonjakan Harga Minyak dan Risiko Resesi Global

Harga minyak dunia tetap berada pada level tinggi di tengah gangguan pasokan global dengan harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) bertahan di atas 100 dolar Amerika Serikat per barel.

Penutupan efektif Selat Hormuz yang biasanya menyalurkan sekitar 15 hingga 20 juta barel minyak per hari menjadi faktor utama lonjakan harga tersebut.

Menurut UBS, dalam skenario ekstrem harga minyak berpotensi melonjak hingga 150 dolar Amerika Serikat per barel.

Kondisi tersebut berisiko memicu inflasi global di atas 4 persen serta mendorong potensi resesi di Amerika Serikat dan Eropa.

Bursa Global dan Regional Turut Melemah

Pada perdagangan sebelumnya, bursa saham Eropa juga ditutup melemah.

Indeks Euro Stoxx 50 turun 1,56 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,05 persen, indeks DAX Jerman turun 1,38 persen, dan indeks CAC 40 Prancis terkoreksi 0,87 persen.

Bursa saham Amerika Serikat Wall Street juga mencatat penurunan dengan indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,73 persen menjadi 45.166,64.

Indeks S&P 500 melemah 1,67 persen ke level 6.368,85 sementara indeks Nasdaq Composite terkoreksi 1,93 persen menjadi 23.132,77.

Sementara itu bursa saham Asia pada Senin pagi juga bergerak melemah.

  • Indeks Nikkei Jepang turun 2.417,07 poin atau 4,53 persen ke level 50.956,00.
  • Indeks Shanghai turun 31,33 poin atau 0,80 persen ke posisi 3.882,40.
  • Indeks Hang Seng melemah 427,38 poin atau 1,71 persen menjadi 24.524,50.
  • Sedangkan indeks Strait Times turun 13,96 poin atau 0,29 persen ke level 4.884,22.
Penulis :
Ahmad Yusuf