
Pantau - Suku Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Timur menangani tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati selama tiga hari berturut-turut sebagai langkah darurat untuk mengurai penumpukan sampah yang mengganggu aktivitas di kawasan pasar tersebut.
Penanganan dilakukan sejak Jumat (27/3) hingga Minggu (29/3) dengan mengerahkan puluhan armada truk pengangkut sampah menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
Kepala Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup Kecamatan Kramat Jati Dwi Firmansyah mengatakan bantuan tersebut diberikan untuk mengurangi dampak penumpukan sampah terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
"Selama tiga hari, kami membantu pengangkutan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, sejak Jumat (27/3) hingga Minggu (29/3), sebagai langkah darurat untuk mengurai penumpukan sampah di kawasan pasar tersebut," ungkap Dwi di Jakarta, Senin.
Pengangkutan Sampah Bersifat Sementara
Dwi menegaskan intervensi yang dilakukan pihaknya hanya bersifat sementara dan bukan bentuk pengambilalihan tanggung jawab pengelolaan sampah di kawasan pasar.
Ia menjelaskan pengelolaan sampah di area komersial seperti pasar merupakan tanggung jawab pengelola, yakni Perumda Pasar Jaya.
"Kami tidak bisa membersihkan sampai tuntas karena ini bukan sampah liar. Ada pihak yang bertanggung jawab sebagai penghasil sampah," ujarnya.
Dwi menambahkan pengelolaan sampah oleh pelaku usaha telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah serta Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang diperbarui melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
Peraturan tersebut mewajibkan setiap penghasil sampah melakukan pengurangan dan penanganan sampah sejak dari sumbernya.
Ketentuan itu juga diperkuat melalui Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2013 yang mewajibkan pelaku usaha menyediakan sarana dan prasarana pengelolaan sampah secara mandiri.
Pengelola Pasar Siapkan Sistem Pengolahan Mandiri
Manajer Pasar Induk Kramat Jati Agus Lamun mengapresiasi bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dalam mengatasi penumpukan sampah di kawasan pasar.
Ia menyatakan pengelola pasar tengah meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah secara mandiri.
"Kami berharap selama masa transisi ini, tetap ada dukungan dari Dinas LH, sampai sistem pengelolaan mandiri kami berjalan optimal," tutur Agus.
Saat ini pengelola pasar telah menjalankan program pengolahan sampah organik menjadi kompos sekitar satu ton per hari.
Selain itu dilakukan pemilahan sampah mingguan dengan volume yang sama serta pemanfaatan sampah sebagai pakan ternak oleh masyarakat sekitar.
Namun upaya tersebut belum mampu mengimbangi volume sampah harian yang diperkirakan mencapai 150 hingga 200 ton sehingga penumpukan masih terjadi di sejumlah titik.
Ke depan pengelola pasar berencana mengoperasikan lima armada truk sampah secara mandiri mulai Mei mendatang untuk mendukung pengangkutan sampah ke TPST Bantar Gebang.
Pengelola juga menjalin kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung untuk merancang sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis teknologi agar seluruh sampah pasar dapat diolah secara mandiri.
Sementara itu pedagang Pasar Induk Kramat Jati Suratno (52) mengeluhkan tumpukan sampah yang mengganggu aktivitas jual beli.
"Sekarang makin menyempit jalannya karena sampah menggunung gitu. Dulu masih lega, sekarang kendaraan susah lewat," kata Suratno.
- Penulis :
- Aditya Yohan







