
Pantau - Kualitas udara di Jakarta pada Selasa pagi tercatat berada dalam kategori tidak sehat seiring meningkatnya aktivitas masyarakat setelah libur panjang Lebaran 2026.
Kualitas Udara dan Dampaknya
Berdasarkan data IQAir pada pukul 06.30 WIB, Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI) Jakarta berada di angka 127 dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 46 mikrogram per meter kubik.
Kondisi tersebut menempatkan Jakarta di peringkat ke-10 kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada pagi hari.
Kategori ini berpotensi berdampak pada kesehatan manusia, terutama kelompok sensitif, serta dapat memengaruhi hewan dan tumbuhan.
Masyarakat diimbau untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna mengurangi paparan polusi.
Lonjakan Aktivitas dan Upaya Pengendalian
Meningkatnya polusi udara terjadi seiring kembalinya aktivitas warga dan padatnya lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama Jakarta.
Kemacetan terpantau di antaranya di Jalan Basuki Rachmat, Jakarta Timur, yang dipadati kendaraan dari arah Bekasi menuju kawasan perkantoran di Jakarta Selatan.
Kondisi ini didominasi kendaraan pribadi dan sepeda motor pada hari pertama masuk kerja setelah libur Lebaran.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup telah mengoperasikan 31 titik Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) untuk memantau kondisi udara secara terintegrasi.
Data tersebut dikolaborasikan dengan sejumlah lembaga seperti BMKG, World Resources Institute Indonesia, dan Vital Strategies guna memperkuat pengendalian pencemaran udara.
- Penulis :
- Aditya Yohan








