
Pantau - Fenomena arus balik Lebaran yang kian besar dibanding arus mudik dinilai mencerminkan ketimpangan struktural antara desa dan kota serta berpotensi menghambat optimalisasi bonus demografi Indonesia.
Urbanisasi dan Ketimpangan Wilayah
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan migrasi penduduk ke perkotaan terus meningkat dengan migrasi risen neto mencapai sekitar 1,2 juta jiwa pada 2025.
Penulis Dr. Eng. Bonivasius Prasetya Ichtiarto menyebut arus balik kini tidak sekadar tradisi, tetapi menjadi fenomena kompleks karena masyarakat turut membawa anggota keluarga ke kota untuk mencari pekerjaan.
"Arus balik yang lebih besar dibandingkan arus mudik merupakan alarm bagi kebijakan kependudukan," tulisnya.
Ia menilai kota menjadi magnet utama, sementara desa hanya menjadi pemasok tenaga kerja.
Bonus Demografi dan Tantangan Pembangunan
BPS mencatat sekitar 54,8 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan dengan dominasi usia produktif mencapai 69,51 persen dari total populasi.
Namun, ketimpangan kesempatan kerja menyebabkan urbanisasi meningkat dan desa mengalami penuaan penduduk.
"Bonus demografi hanya akan optimal apabila desa mampu menjadi pusat pertumbuhan baru, bukan sekadar daerah asal tenaga kerja," tulisnya.
Ia menambahkan tanpa kebijakan terpadu, bonus demografi berisiko berubah menjadi beban demografi akibat tekanan di kota dan stagnasi pembangunan di desa.
Diperlukan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk menciptakan pembangunan yang seimbang antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
- Penulis :
- Aditya Yohan







